
Pernah tidak kamu ketemu orang yang kalau ngomong dalilnya meluncur deras kayak kran air bocor, tapi bawaannya bikin orang di sekitarnya pengen nepok jidat? Atau kawan yang di media sosial jago ngutip kitab-kitab berat, tapi kalau di dunia nyata sapaan tetangga saja dicuekin?
Nah, di sinilah bedanya antara orang yang sekadar pintar sama orang yang ilmunya berkah.
Di lingkungan pesantren, nilai tertinggi dari sebuah proses belajar itu bukan cuma tumpukan indeks prestasi atau seberapa jago kamu memenangkan debat di grup WhatsApp keluarga. Nilai puncaknya ada pada satu kata: barokah.
Ilmu yang berkah itu misterius tapi nyata kelihatan. Beda sama kepintaran yang cuma sampai di tataran mengetahui, ilmu yang berkah itu meresap sampai ke tulang sumsum. Kata para ulama, ilmu terbaik adalah ilmu yang ditemani oleh khasy-yah—rasa takut yang berpadu dengan rasa hormat, pengagungan, dan kesadaran betapa kerdilnya kita di hadapan Kebesaran-Nya.
Khasy-yah inilah yang membedakan antara ilmu yang jadi obat penenang jiwa, sama ilmu yang cuma jadi pajangan dinding buat gagah-gagahan.
Gimana cara menakar apakah ilmu yang kita miliki ini berkah atau cuma bikin kepala makin membesar? Gampang, coba intip sikap hatimu sendiri waktu dapat ilmu baru.
Orang yang ilmunya belum tersentuh khasy-yah biasanya punya dua gejala utama:
Makin pintar makin su'ul adab: Merasa paling paham agama atau teori, sampai-sampai kiai, guru, atau orang tua sendiri dianggap "kurang literasi". Ini tipe orang yang ilmunya bukannya bikin merunduk, tapi malah bikin lehernya kaku kayak orang salah tidur.
Hobi memburu "kemenangan" debat: Kalau ngaji atau baca buku, tujuannya bukan buat memperbaiki akhlak sendiri, melainkan buat bahan membantai argumentasi orang lain di kolom komentar. Ibarat punya pisau dapur canggih, bukannya dipakai memotong bawang, malah dipakai menakut-nakuti tukang bakso.
“Tanda hadirnya khasy-yah dalam diri seseorang ialah ketika hatinya mulai berpaling dari keterikatan berlebihan kepada dunia, serta tidak lagi mudah terguncang oleh sikap manusia.”
Padi yang makin berisi itu makin menunduk, bukan makin dangdutan. Orang yang batinnya matang dan punya khasy-yah justru bakal makin merasa tidak ada apa-apanya.
Saat dia menguasai ilmu tinggi, dia tidak akan merasa lebih suci dari marbot masjid yang cuma hafal surat-surat pendek, tapi subuhnya rajin dan hatinya tulus. Sebab dia paham betul: ilmu tanpa khasy-yah itu tidak memiliki nilai kebaikan yang sejati.
Seseorang yang ilmunya berkah itu ibarat air hujan di tanah subur—kehadirannya bikin adem sekelilingnya. Ngobrol sama dia itu rasanya tenang, bukan malah bikin tensi darah naik.
Jadi, sebelum kita membangga-banggakan berapa banyak buku yang sudah dibaca atau berapa banyak gelar yang sudah diraih, coba takar dulu sikap hati kita masing-masing:
Apakah ilmu ini bikin kita makin tawadu dan makin sayang sama sesama?
Atau malah bikin kita makin gampang menghakimi orang lain?
Kiai-kiai kita dulu selalu memberi pesan yang sangat dalam: “Ojo rumangsa iso, tapi isoo rumangsa”—jangan merasa bisa, tapi bisalah merasa.
Seduh kopimu, tatap hatimu, dan berdoa semoga ilmu yang kita pelajari tidak cuma mampir di bibir buat bahan debat, tapi benar-benar meresap menjadi keberkahan di dalam batin.
Your email address will not be published. Required fields are marked *