
Pernah nggak sih, jam 2 pagi, mata udah sepet, badan udah lengket sama kasur, tapi otak malah tiba-tiba ngajak meeting paripurna?
Tiba-tiba pikiran meloncat dari urusan masa depan yang masih gaib, mikirin karir yang stuck, saldo ATM yang isinya cuma cukup buat beli cilok, sampai memikirkan misteri terbesar abad ini: kenapa tutup Tupperware ibu bisa hilang padahal dicucinya barengan sama wadahnya?!
Di saat otak sedang cosplay jadi benang kusut begini, apa yang biasanya kita lakukan? Betul sekali: buka HP. Niatnya mau cari video kucing lucu biar relax, eh malah masuk ke FYP yang isinya orang seumuran udah beli rumah tingkat tiga, liburan ke Cappadocia, dan punya bisnis franchise. Bukannya ngantuk, insecure malah meroket tembus atmosfer.
Di titik overthinking paling parah inilah, kita sering lupa kalau kita punya fasilitas "P3K" (Pertolongan Pertama Pada Kegalauan) dari pusat (baca: Allah SWT), yaitu Al-Qur'an.
Al-Qur'an: Lebih dari Sekadar Pengusir Setan di Kosan
Coba kita jujur-jujuran dulu. Sering kali, interaksi kita sama Al-Qur'an itu sifatnya transaksional alias "ada maunya doang".
Baca surah Yasin pas mau ujian biar dapet contekan... eh, maksudnya ilham. Atau, nyetel murottal ayat Kursi di Spotify volume maksimal pas lagi sendirian di kosan karena habis nonton film horor. Mengakulah, kita sering memperlakukan Al-Qur'an cuma sebatas "Bawang Putih pengusir vampir" atau sekadar soundtrack aesthetic bulan Ramadan, kan?
Padahal, Al-Qur'an itu punya dua hal super power: Ruh dan Cahaya.
Allah menyebut Al-Qur'an sebagai Ruh karena dia berfungsi menghidupkan. Bayangkan hati dan mental kita yang lagi keriting gara-gara overthinking itu ibarat HP yang baterainya sisa 1%, layar udah redup, dan notifnya "Low Battery". Al-Qur'an adalah fast-charger original langsung dari pabriknya. Dia paham banget bug dan error di kepala kita, karena yang menurunkannya adalah Dzat yang memprogram sistem operasi diri kita.
Senter Terang di Kepala yang Gelap
Lalu, kenapa disebut Cahaya? Karena overthinking itu bikin isi kepala gelap gulita kayak jalanan komplek pas mati lampu. Kita nabrak sana, nabrak sini, ketakutan sendiri sama hal yang belum tentu terjadi.
Nah, ketika kita membaca Al-Qur'an dengan maknanya (iya, baca terjemahannya, Guys, biar tahu artinya, masa iya ngobrol sama Tuhan tapi pakai fitur mute?), cahayanya mulai menyala.
Contoh kasus nih:
Kamu lagi nangis bombay karena overthinking mikirin, "Duh, besok makan apa ya? Cicilan bulan depan gimana? Karierku kok gini-gini aja, padahal aku udah rajin jilat... eh, rajin kerja."
Terus kamu buka Al-Qur'an dan nggak sengaja baca Surah Hud ayat 6: "Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya."
Rasanya itu kayak pundakmu ditepuk perlahan sama Allah, terus dibisikin, "Udah Le/Nduk, tidur sana. Cicak di dinding yang modal merayap dan nggak bisa kirim CV aja rezekinya nyamuk yang terbang ke arah dia. Masa kamu yang punya akal, punya ijazah, punya WiFi, merasa Aku telantarkan? Udah, tidur, besok Ku-transfer rezeki lewat jalan yang nggak kamu duga. Mending pake skincare biar besok mukamu nggak kayak kanebo kering."
Atau pas kamu lagi galau karena ngerasa hidupmu paling menderita sedunia karena chat kamu di-read doang sama gebetan. Terus kamu baca Surah Ar-Rahman: "Fabiayyi aala i rabbikuma tukadzdziban" (Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?).
Itu ibarat Allah lagi roasting kamu dengan lembut, "Hei Anak Muda, kamu tadi siang baru aja makan ayam geprek, matamu bisa lihat jelas, tanganmu bisa scroll TikTok berjam-jam tanpa pegal. Terus kamu mau bilang hidupmu hancur cuma gara-gara satu manusia yang nggak balas chat-mu? Serius lo?" Seketika, gelapnya overthinking sirna, diganti senyum malu-malu karena merasa ketahuan lucunya diri sendiri di hadapan Tuhan.
Healing Jalur Langit
Jadi, mari kita ubah cara mainnya. Mulai malam ini, kalau otakmu mulai ngajak meeting paripurna jam 2 pagi lagi, jangan buru-buru buka sosmed buat cari perbandingan hidup. Jangan juga cuma scroll quotes galau yang malah bikin kamu merasa jadi main character di sinetron azab.
Ambil air wudu (iya, air wudu itu dingin, lumayan mendinginkan kepala yang udah ngebul kayak radiator angkot), buka Al-Qur'annya, dan baca perlahan. Nggak usah muluk-muluk langsung target satu juz kalau matamu udah tinggal 5 watt. Baca beberapa ayat saja beserta artinya. Resapi ruh-nya, biarkan cahaya-nya masuk ke sela-sela sel otakmu yang lagi kusut itu.
Percayalah, Al-Qur'an itu bukan sekadar buku bacaan yang bikin ngantuk. Ia adalah teman ngobrol paling asyik, paling logis, dan paling mengerti kamu, saat bahkan kamu sendiri nggak ngerti sama dirimu sendiri.
Selamat mencoba healing jalur langit, ya! Awas, efek sampingnya bisa bikin hati mendadak adem dan tidur jadi pules banget melebihi pakai obat tidur paling mahal sekalipun.
Your email address will not be published. Required fields are marked *