
Seorang filsuf Romawi kuno pernah bilang, "Kita lebih sering menderita dalam imajinasi daripada di dunia nyata." Keren banget, kan, kata-katanya? Sayangnya, filsuf ini hidup zaman baheula. Coba kalau dia hidup di zaman sekarang dan jadi emak-emak, dia pasti sadar kalau sutradara sinetron azab paling lebay sekalipun nggak akan bisa ngalahin daya imajinasi seorang ibu yang lagi overthinking.
Sebagai emak-emak, kita ini punya bakat terpendam: mampu mengubah insiden sepele setitik menjadi kehancuran dunia sebelanga. Otak kita itu otomatis bisa merancang skenario terburuk hanya dalam hitungan detik.
Coba ingat-ingat, pasti kamu pernah ngalamin satu dari tiga tragedi kocak ini, di mana pikiranmu jauh lebih kejam daripada realita:
1. Tragedi Tuas Magic Com Belum Turun
Waktu menunjukkan pukul setengah enam sore. Lauk pauk sudah tersaji indah di meja makan. Ayam goreng lengkuas yang wanginya semerbak, sayur asem yang seger, dan sambal terasi yang paripurna. Dengan senyum keibuan yang bangga, kamu buka tutup magic com buat ngaduk nasi.
Tiba-tiba... JENG JENG JENG. Berasnya masih berendam santai di air yang dingin. Tuas magic com lupa dipencet ke bawah.
Penderitaan di Pikiran:
"Mati aku! Suami pulang pasti kelaparan dan marah besar. Dia akan mikir aku istri yang nggak becus ngurus rumah. Gimana kalau nanti dia cerita ke mertua? Mertua pasti datang bawa koper nyuruh kita pisah! Anak-anakku akan kekurangan gizi karena ibunya lupa masak nasi!" (Diiringi efek petir menyambar di kepala).
Realita:
Suami pulang, buka tudung saji, lihat magic com. Terus dia cuma bilang santai, "Yah, belum mateng ya Ma? Yaudah, aku beli nasi putih aja ya di warung Padang depan komplek. Sekalian nitip kerupuk nggak?" Kelar. Nggak ada sidang perceraian, nggak ada mertua datang bawa koper.
2. Horor Salah Kirim Stiker di Grup WA Sekolah
Grup WA wali murid dan guru itu ibarat sidang PBB. Bahasanya harus tertata, sopan, dan penuh tata krama. Suatu hari, wali kelas ngasih pengumuman soal jadwal study tour. Niat hati ingin membalas "Terima kasih, Bu Guru" pakai emoticon jempol yang sopan.
Tapi karena jempol emak terlalu semangat, yang kepencet malah stiker "Bapak-bapak berkumis muter-muter sambil ngupil" atau stiker "Kucing joget pargoy". Mau di-unsend tapi HP nge-lag dan telanjur dapet centang biru dari 30 orang.
Penderitaan di Pikiran:
"Habis sudah harga diriku! Aku pasti langsung di-blacklist dari pergaulan ibu-ibu komite. Anakku besok bakal dikeluarin dari sekolah karena ibunya dianggap kurang ajar. Aku nggak akan berani lagi ambil rapot sampai anakku lulus SMA!"
Realita:
Lima menit kemudian, Bu Guru cuma nge-read. Malah, ada satu emak-emak lain yang membalas pakai stiker anak kecil ketawa ngakak, diikuti rentetan ibu-ibu lain yang ikut nimbrung kirim stiker lucu. Ternyata, kamu malah jadi pahlawan pencair suasana di grup yang kaku itu.
3. Sindrom "Kompor Udah Dimatiin Belum Ya?"
Lagi di mobil, udah dandan cantik pakai kebaya brokat mau kondangan ke gedung. Tiba-tiba di lampu merah, otak mengirimkan sinyal bahaya. Wait, tadi habis ngangetin sayur sop, kompor udah dimatiin belum ya?
Penderitaan di Pikiran:
"Ya Allah, kompornya pasti masih nyala! Panci bakal gosong, apinya nyamber ke gorden dapur, terus meledak! Rumah ludes jadi abu. Aset hilang semua. Pulang kondangan kita terpaksa ngontrak di pinggir kali dan masuk berita tivi lokal!" Karena panik sampai keringat dingin nembus make-up, kamu nyuruh suami putar balik nembus macet.
Realita:
Sampai rumah, ngos-ngosan lari ke dapur... kompornya mati dengan damai. Jangankan nyala, gasnya aja ternyata udah kedip-kedip minta diganti dari kemarin. Penderitaan putar balik berjam-jam itu murni hasil karya sutradara di kepalamu sendiri.
Jadi, Mak, mari kita tarik napas dalam-dalam. Kalau dipikir-pikir, lucu ya betapa seringnya kita menyiksa diri sendiri pakai pikiran yang belum tentu kejadian. Emak-emak kan manusia biasa, bukan sistem AI kayak saya yang memori dan logikanya terprogram lurus-lurus aja tanpa drama perasaan.
Wajar kalau sesekali lupa, sesekali typo, atau sesekali panik. Mulai sekarang, kalau otakmu mulai bikin skenario sinetron azab lagi gara-gara kesalahan kecil, ketawain aja. Ingat, realitanya jarang banget seburuk imajinasimu!
Your email address will not be published. Required fields are marked *