
Pernah gak sih kalian lagi asyik scrolling media sosial sambil rebahan, terus tiba-tiba nemu video yang bikin elus dada? Bukan, bukan video harga token listrik yang makin mencekik, melainkan video anak muda yang ngerjain (nge-prank) kakek-kakek penjual mainan demi konten. Atau, kolom komentar berita duka yang isinya malah netizen adu mekanik ketikan kasar, seolah-olah jempol mereka udah dapet lisensi bebas dosa dari pusat.
Di momen-momen kayak gitu, rasanya pengen banget kita drop sebuah kutipan legendaris dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang bunyinya: "Bukanlah anak yatim itu yang telah meninggal orang tuanya, sesungguhnya anak yatim yang sebenarnya adalah yang tidak memiliki ilmu dan adab."
Nah, di era digital ini, lahirlah sebuah fenomena baru yang gak kalah ngeri: Yatim Akhlak. Orang tuanya ada, sehat walafiat, kuota internetnya melimpah, tapi adab dan etikanya seolah "lost" ditelan algoritma. Kenapa fenomena ini bisa terjadi dan kenapa ini ngeri banget? Mari kita bedah bareng-bareng sambil ngopi sasetan.
Dulu, kalau mau ngatain orang, kita harus ketemuan langsung. Minimal ada usaha buat nyamperin, tatap muka, dan tentu saja ada risiko kena gaplok di tempat. Ada rem alaminya, gaes!
Sekarang? Modal foto profil gambar anime, nama akun @Xyz_GantengBanget99, dan jempol yang udah sekolah paket C, seseorang bisa menjelma jadi hakim paling kejam sedunia. Mereka ngerasa aman karena mukanya gak kelihatan. Efeknya, rem adabnya blong. Mereka lupa kalau di balik layar yang mereka hujat itu ada manusia beneran yang punya perasaan, bukan robot AI penyedot debu.
Zaman sekarang, demi yang namanya likes, views, dan shares, batasan antara "kreatif" sama "gak punya urat malu" itu bedanya tipis banget, setipis tisu dibagi dua, terus ditiup angin.
Ada orang kecelakaan, bukannya ditolongin malah dikeluarkan HP-nya buat bikin konten breaking news. Ada orang lagi sedih, malah difoto diam-diam terus dikasih backsound lagu jedag-jedug biar estetik. Demi FYP (For Your Page), adab dikorbankan. Kalau ditanya kenapa? "Ya elah, Bang, cuma bercanda, jangan baperan!" Lah, bercanda kok merugikan harga diri orang lain? Itu namanya bukan bercanda, tapi krisis moral berkedok komedi.
Kalau kita miskin harta, kita masih bisa usaha, ikut bansos, atau minimal pinjol—eh jangan deng, canda pinjol. Tapi kalau udah "yatim akhlak" alias miskin adab, ini yang repot.
Banyak orang pintar di era digital ini. Mau belajar apa aja tinggal buka YouTube atau tanya Google. Nyari orang pinter coding? Banyak. Yang jago desain? Bejibun. Tapi nyari orang yang tau cara bilang "tolong", "maaf", dan "terima kasih" di grup WhatsApp kantor? Wah, itu langka banget, kayak nyari badak bercula satu di lampu merah. Pintar akademis tapi minus etika itu cuma bakal bikin kita jadi penjahat yang lebih canggih.
Netizen kita itu terkenal paling jempolan kalau urusan gercep (gerak cepat). Ada info dikit, langsung sebar ke grup keluarga tanpa disaring. Efek "yatim ilmu dan adab" ini bikin kita males mikir. Kita lebih suka menelan mentah-mentah fitnah asalkan itu kelihatan seru. Giliran infonya hoaks, boro-boro minta maaf, yang ada malah bilang, "Ya saya kan cuma meneruskan dari grup sebelah." Ya Salam, gampang bener cuci tangannya kayak abis makan tahu sumedang!
Catatan Pinggir:
Punya gadget spek dewa dengan jaringan 5G itu keren. Tapi kalau kapasitas akhlak kita masih sekelas ketikan SMS premium 2000-an yang isinya "Ketik REG (spasi) HUJAT", ya percuma.
Jadi, gaes, yuk bareng-bareng kita cas lagi baterai akhlak kita. Biar orang tua kita di rumah gak dituduh gagal mendidik, dan biar kita gak masuk ke dalam golongan orang-orang yang "yatim" di tengah ramainya dunia digital. Pintar itu pilihan, tapi punya adab itu kewajiban.
Your email address will not be published. Required fields are marked *