
Ngaku deh, siapa di sini yang kalau lagi mandi, nongkrong di kloset, atau pas kepala baru nempel di bantal tiba-tiba dapet ide brilian? Idenya saking epiknya, kamu ngerasa kalau ini dieksekusi, besok pagi kamu udah bisa masuk majalah Forbes 30 Under 30 ngalahin Elon Musk.
Tapi apa yang terjadi seminggu kemudian? Boro-boro masuk Forbes, ide itu cuma mengendap di otak dan membusuk bersama wacana liburan bareng bestie yang batal dari tahun 2021.
Pas ditanya temen kenapa belum mulai, jawaban andalanmu keluar: "Gue tuh orangnya perfeksionis banget, Bro. Kalau nggak mateng konsepnya, gue nggak mau jalan. Nanti hasilnya jelek."
Cuih. Sungguh pembelaan yang estetik. Padahal kalau dibedah pakai mikroskop kejujuran, kamu bukannya perfeksionis. Kamu cuma kena penyakit "Ilusi Perfeksionis" alias malas yang dikasih filter beauty.
Mari kita lihat gejala-gejala ilusi ini di kehidupan nyata yang (katanya) keras ini:
1. Sindrom Si Paling "Equipment Harus Pro" (Modal Dulu, Mulai Kagak)
Ini nih penyakit paling umum di era gempuran FYP TikTok. Ceritanya kamu mau mulai hidup sehat dan rajin workout.
Ekspektasi Perfeksionis: Beli sepatu lari branded, smartwatch yang bisa ngukur detak jantung sampai ngukur tingkat keimanan, matras yoga warna pastel, dan botol minum 2 liter yang ada tulisan motivasinya "Keep Going, You Can Do It!"
Realita: Tiga hari pertama semangat lari keliling GBK. Hari keempat, kaki pegal. Hari kelima, hujan gerimis tipis. Akhirnya? Sepatu masuk kardus, smartwatch cuma dipakai buat ngitung berapa langkah dari kasur ke kulkas, dan matras yoga beralih fungsi jadi alas buat nyetrika baju. Alasan berhentinya? "Aduh, track larinya kurang rata nih, ngerusak posture lari gue." Halah!
2. Terjebak di "Canva Purgatory" (Neraka Desain Tanpa Ujung)
Misal kamu mau buka usaha kecil-kecilan. Jualan dessert box atau baju thrifting. Idenya udah ada, supplier udah dapet. Terus apa yang bikin nggak launching-launching? Logo.
Kamu menghabiskan waktu DUA BULAN penuh cuma buat ngotak-ngatik font di Canva. "Aduh, warna sage green ini kurang cocok sama vibes brand gue yang chic dan edgy. Terus font-nya kurang merepresentasikan visi misi perusahaan." Ya ampun, Kak. Kamu tuh mau jualan risol mayo depan teras, bukan mau re-branding BUMN! Pembeli tuh pedulinya risolmu isinya daging beneran atau cuma angin, bukan peduli font logomu pakai Comic Sans atau Times New Roman.
3. Menunggu Konjungsi Planet untuk Dapet "Mood"
Si ilusi perfeksionis ini paling jago bikin jadwal yang nggak masuk akal.
"Gue mau nulis novel ah. Tapi nulisnya enak pas hujan rintik-rintik, ditemani kopi senja, sambil dengerin lagu indie."
Pas hujan beneran turun, kopinya udah dibikin, lagunya udah play. Eh, tetangga sebelah muter lagu koplo full bass. Langsung deh laptop ditutup. "Ah, vibes-nya rusak. Nggak sempurna. Nggak jadi nulis deh, scrolling Shopee aja." Kita sering banget nunggu "momen yang sempurna" untuk memulai sesuatu. Nunggu tanggal 1, nunggu hari Senin, nunggu cuaca mendukung. Padahal, nunggu momen sempurna itu sama kayak nungguin tukang paket dateng pas kita lagi mules di kamar mandi—nggak akan pernah pas!
Tamparan Realita: Kamu Cuma Takut Kelihatan "Cringe"
Kalau kita mau jujur sampai ke tulang sumsum, alasan sejati dari "udah punya ide tapi gak mulai-mulai" itu sederhana: Kita takut jelek.
Kita takut karya pertama kita diketawain. Kita takut postingan pertama kita likes-nya cuma dari akun ibu kita sendiri. Kita udah keburu ngebayangin komentar julid netizen, padahal followers kita juga isinya cuma akun-akun bot obat peninggi badan.
Padahal, semua influencer besar, pengusaha sukses, atau penulis best seller itu dulunya juga pernah "cupu". Mereka pernah bikin konten yang cringe abis. Bedanya, mereka berani jelek di awal, sementara kita memilih untuk terlihat keren di dalam imajinasi kita sendiri.
Mulai Aja Dulu, Berantakan Juga Nggak Apa-Apa!
Jadi, buat kamu yang ide-idenya udah numpuk sampai bisa dibikin ensiklopedia: Stop overthinking!
Buang tuh ilusi perfeksionis. Bikin karya yang jelek. Jualan dengan logo seadanya. Bikin video dengan pencahayaan lampu neon ruang tamu. Izinkan dirimu menjadi pemula yang nggak tahu apa-apa dan sering bikin salah.
Karena pada akhirnya, punya satu hasil karya yang jelek dan berantakan tapi SELESAI, derajatnya jauh lebih tinggi dan mulia daripada seribu ide brilian yang cuma jadi wacana di tongkrongan warung kopi. Gas mulai sekarang!
Your email address will not be published. Required fields are marked *