
Pernahkah Anda duduk melamun, lalu tiba-tiba mikir: "Gimana ya kalau harga beras naik jadi sejuta sekarung? Terus nanti kalau BBM hilang dari muka bumi gimana? Apa aku harus kerja bakti narik delman?"
Stop! Tarik napas dulu. Buang perlahan... Nah, sekarang sadari satu hal: Berasnya belum sejuta, BBM masih ada di SPBU, tapi jantung Anda sudah mau copot duluan.
Inilah yang disebut "Menderita sebelum waktunya." Kita ini sering banget dapet medali emas dalam cabang olahraga Overthinking Nasional. Padahal, inflasi itu cuma angka di berita, tapi stres itu monster yang kita pelihara sendiri di kepala.
Mari kita bahas cara menjinakkan monster itu dengan panduan hidup tenang ala rakyat jelata yang cerdas:
1. Masalah itu Kayak Tamu Tak Diundang
Bayangkan inflasi dan kondisi ekonomi itu kayak tamu jauh yang datang ke rumah tanpa kabar, nggak bawa oleh-oleh, eh malah numpang makan.
Kalau Anda sambut dengan marah-marah, dia makin betah. Kalau Anda tangisi, dia nggak bakal pulang. Cara paling rasional? Ya sudah, sajikan air putih botolan, biarkan dia duduk di teras, tapi jangan ajak dia tidur di dalam kamar pikiran Anda. Dunia memang lagi mahal, tapi akses untuk "nggak mikirin hal yang belum tentu terjadi" itu masih gratis tis tis!
2. Diet Informasi (Bukan Diet Nasi)
Kalau mau tenang, berhentilah mengonsumsi berita ekonomi seolah-olah itu adalah drakor yang harus ditonton tiap episode.
Membaca judul berita "Ekonomi Global Terancam Ambruk" itu efeknya sama kayak makan seblak level 10 di jam 2 pagi: Bikin mulas dan nggak bisa tidur. Ingat, pikiran kita itu kayak wadah. Kalau isinya berita buruk terus, ya keluarnya kecemasan. Coba ganti asupan pikiran Anda dengan video kucing lucu atau tutorial cara bikin jemuran dari pipa bekas. Lebih bermanfaat dan nggak bikin tipes.
3. Jurus "Emang Kenapa?" (The Power of Bodo Amat)
Ini adalah mantra sakti kaum Stoik versi lokal. Coba deh praktikkan saat pikiran buruk mulai menyerang:
Pikiran: "Duh, tabungan nggak nambah-nambah nih."
Logika: "Emang kenapa? Yang penting hari ini masih bisa makan gorengan anget dan minum teh manis, kan? Masih hidup kan?"
Pikiran: "Tapi tahun depan katanya gelap!"
Logika: "Ya tinggal beli senter atau lilin. Gelapnya kan bukan cuma di rumah kita doang, se-RT juga gelap. Malah seru bisa main petak umpet."
Gunakan logika untuk menertawakan ketakutan Anda. Ketakutan itu paling benci diketawain.
4. Bahagia itu Masalah "Standar", Bukan Masalah "Saldo"
Kita stres karena standar bahagia kita ketinggian. Kita pikir bahagia itu kalau bisa checkout keranjang Shopee tanpa lihat harga. Padahal, bahagia itu bisa sesederhana:
Nemu uang 5 ribu di saku celana yang mau dicuci.
Lihat jemuran kering semua saat mendung mulai datang.
Istri nggak ngomel pas kita pulang bawa martabak (padahal martabaknya hasil promo).
Turunkan standar bahagia Anda, maka dunia akan terasa lebih ramah. Saldo boleh lowbat, tapi mood harus tetap full power.
5. Fokus pada "Hari Ini" (Besok Ya Besok)
Kaum Stoik kuno bilang kita hidup di masa sekarang. Masa lalu sudah jadi fosil, masa depan masih jadi misteri (kayak isi amplop kondangan).
Tugas Anda hari ini cuma satu: Bertahan hidup sampai jam tidur. Kerjakan pekerjaan Anda sebisanya, sayangi keluarga semampunya, dan makan secukupnya. Kalau hari ini Anda masih bisa ketawa baca artikel ini, berarti Anda menang 1-0 melawan inflasi!
Kesimpulan:
Inflasi itu nyata, tapi stres itu pilihan. Dunia mungkin lagi nggak baik-baik saja, tapi bukan berarti Anda harus ikut-ikutan jadi "nggak baik-baik saja".
Tetaplah jadi manusia yang rasional dan sedikit humoris. Karena di masa sulit, tertawa adalah bentuk perlawanan yang paling elegan.
Sekarang, silakan matikan HP, lihat pasangan atau anak Anda, lalu bilang: "Tenang, selama ada Bapak/Ibu, dunia tetap asyik-asyik aja!" (Terus kabur sebelum ditagih uang belanja tambahan).
Salam Waras Selamanya!
Your email address will not be published. Required fields are marked *