
Jujurly, zaman sekarang itu apa-apa solusinya "healing".
Capek dimarahin bos? Healing ke kafe aesthetic. Berantem sama ayang? Staycation. Capek mikirin omongan tetangga yang nanya kapan nikah? Beli tiket ke Bali.
Padahal, mari kita bicara realita: sering kali healing gaya begini bukannya nyelesein masalah, malah nambah masalah baru. Kenapa? Karena pas balik dari healing, masalah utamanya masih stay di situ, nungguin kita sambil senyum sinis. Belum lagi pas cek mutasi rekening atau buka aplikasi paylater... yang tadinya mau healing malah jadi headache. Makin pusing, Bestie!
Kadang, kita tuh terlalu sibuk mencari pelarian ke luar, sampai lupa kalau ada satu "tombol reset" bawaan pabrik yang gratis, nggak butuh sinyal WiFi, dan ampuh banget buat nurunin overthinking.
Iya, tombol itu namanya Istighfar.
Healing Elit, Ekonomi Sulit
Pernah nggak sih kamu merasa kepala udah kayak browser yang tab-nya kebuka 99+? Semuanya loading, muter-muter nggak karuan. Ada tab kerjaan yang deadline-nya mepet, tab cicilan motor, tab drama pertemanan, sampai tab galau ngeliat temen seangkatan udah pada beli rumah sementara kita masih mikir keras milih menu makan siang pakai promo ojol.
Di saat kepala udah mau meledak kayak gini, kita sering salah diagnosa. Kita kira kita butuh traveling. Padahal, kadang yang kita butuhkan cuma berhenti sebentar. Cuma duduk. Tarik napas panjang. Dan ngucap pelan-pelan: "Astaghfirullahaladzim..."
Kapan Waktu Terbaik Buat Pake "Jurus" Ini?
Nggak perlu nunggu pakai peci atau mukena di atas sajadah (walaupun ini the best sih). Istighfar itu portabel banget, bisa dipakai di segala medan tempur kehidupan sehari-hari:
Pas di jalanan macet: Ada motor motong jalan sembarangan bikin jantung mau copot. Daripada ngabsen kebun binatang yang bikin tensi naik, mending tarik napas... Astaghfirullah, untung rem gue pakem.
Pas grup WA kantor bunyi jam 10 malam: Bos nge-tag nama kita pakai huruf kapital semua. Daripada bales ngegas atau overthinking sampai asam lambung naik, taruh HP sebentar. Astaghfirullah, hamba butuh gaji buta, eh, butuh gajinya ya Allah.
Pas buka dompet atau saldo ATM: Tanggal 25 gajian masuk, tanggal 26 udah sisa saldo mengendap. Ini sih istighfarnya harus di-dobel. Astaghfirullahaladzim, ya Allah, uang hamba cuma numpang lewat buat say hi doang.
Pas overthinking jam 2 pagi: Otak tiba-tiba muter ulang memori memalukan 5 tahun yang lalu pas kita salah manggil orang di mall. Malunya masih kerasa sampai ubun-ubun! Langsung aja: Astaghfirullah, ya Allah hapus memori itu dari kepalaku dan kepala orangnya.
Kenapa Istighfar Itu Ngaruh Banget?
Ini bukan ceramah lho ya, tapi kalau dipikir-pikir secara logika, istighfar itu works karena satu hal: Kita akhirnya mengakui kalau kita ini bukan superhero. Sering banget kita stres karena ngerasa harus bisa ngendaliin SEMUA hal. Harus sukses sebelum umur 25, harus selalu kelihatan bahagia di Instagram, harus bisa bahagiain semua orang. Capek, woy!
Dengan beristighfar, kita tuh lagi ngomong ke diri sendiri dan ke Tuhan: "Ya Allah, hamba ini aslinya remuk, gampang capek, banyak salah, dan nggak sanggup ngatur semuanya sendirian. Tolong ambil alih ya." Istighfar itu bentuk rilis beban. Minta ampun atas segala dosa (termasuk dosa mendzolimi diri sendiri karena terlalu keras bekerja sampai lupa istirahat). Begitu beban itu diakui dan dilepas ke Dzat Yang Maha Kuasa, anehnya... dada tuh kerasa lebih plong. Kayak ada batu seberat 10 kilo yang diangkat dari pundak.
Yuk, Duduk Sebentar
Jadi, buat kamu yang lagi baca tulisan ini dengan mata lelah, bahu tegang, dan isi kepala yang berisik banget... yuk, berhenti scrolling sebentar aja.
Nggak usah buru-buru buka aplikasi traveling buat cari tiket staycation. Nggak usah maksain nongkrong di kafe mahal kalau dompet lagi tipis. Cukup cari posisi duduk yang pewe, senderan, pejamkan mata bentar.
Tarik napas perlahan, dan ucapkan dari dalam hati yang paling dalam: "Astaghfirullahaladzim..." Ulangi beberapa kali sampai napasmu kerasa lebih teratur. Nggak ada yang berubah dari dunia di luar sana, bosmu mungkin tetep nyebelin, dan cicilan tetep harus dibayar. Tapi setidaknya, di dalam dirimu, ada satu ruang tenang yang baru saja terbuka.
Selamat beristirahat, kawan. Langit nggak akan runtuh kok kalau kamu milih diam sejenak hari ini.
Your email address will not be published. Required fields are marked *