
Ketika mendengar agenda Muktamar NU ke-35, bayangan banyak orang mungkin langsung tertuju pada ribuan kiai yang bersidang di ruangan besar, membahas kitab-kitab tebal, dan merumuskan hukum fiqih tingkat tinggi tentang geopolitik global. Lalu kita yang di rumah, yang saban hari pusing mikirin kuota internet tiris atau kurir COD datang di jam tidur siang, nyeletuk: "Lha terus hubungannya Muktamar NU sama urusan periuk nasi kita apa, Gus?"
Jangan salah! Muktamar itu memang arena musyawarah para ulama besar, tapi ruh yang dibahas di sana itu sejatinya adalah survival kit alias panduan bertahan hidup menghadapi keruwetan dunia sehari-hari dengan hati tetap santuy.
"Bahtsul Masail di Muktamar itu mikirin kemaslahatan umat se-dunia. Nah kalau di rumah, Bahtsul Masail-nya Bapak itu mikirin gimana caranya kurir COD enggak ketok pintu pas Ibu lagi mode macan bangun tidur."
Lihat saja kepasrahan para bapak di jalanan. Bapak-bapak NU itu punya ilmu fiqih lalu lintas tingkat tinggi. Contohnya saat naik motor tua, tombol lampu seinnya dol—maksud hati mau belok kiri, tapi lampu kedipnya ke kanan. Bukannya panik pas diklakson orang dari belakang, bapak-bapak cukup lambaikan tangan sambil senyum, "Sabar Mas, iki ujiane iman ning jalan raya."
Begitu juga saat datang ke hajatan tetangga: modal isi amplop tipis setipis harapan, tapi pas pulang tetap dihormati dan dibawahi boks makanan (berkat). Pembahasan Muktamar soal kemandirian dan pemerataan ekonomi rakyat itu ya wujud nyatanya ada di diplomasi berkat hajatan ini: semua kenyang, semua senang, tidak ada perselisihan.
"Prinsip ukhuwah ala emak-emak NU itu simpel: kalau bikin kolak pisang sepanci, tetangga kiri-kanan harus ngerasain semangkuk. Biar kalau kamu lupa ngentas jemuran pas hujan deras, tetanggamu yang pengawasannya sejeli CCTV kompleks dengan sukarela membantu."
Di garis depan kehidupan rumah tangga, emak-emak NU adalah praktisi diplomasi sosial terbaik. Saat harga kebutuhan pokok merambat naik, bukannya marah-marah di medsol, emak-emak NU memilih mempraktikkan konsep qana'ah (merasa cukup) sambil putar otak. Uang belanja diatur ketat, tapi tradisi saling tukar mangkok masakan antar-pagar tetap jalan. Muktamar boleh bicara ketahanan pangan nasional, tapi emak-emak sudah mengeksekusinya lewat jalinan silaturahmi yang bikin perut tetangga tetap aman.
"Kalau kena ghosting gebetan, jangan nangis kejang-kejang di kamar. Pakai prinsip tahlilan: anggap saja dia sudah menyelesaikan masa baktinya di hatimu, lalu Fatihahi supaya hatinya padang."
Buat anak-anak muda yang sering lose streak saat main game online atau kena stres akibat algortima media sosial yang bikin emosi, spirit Muktamar ke-35 ini adalah obat penawar paling manjur. Anak muda NU mengajarkan bahwa dunia digital itu tidak usah dimasukkan ke dalam hati sampai bikin burnout. Kalau linimasa penuh ujaran kebencian, tutup aplikasinya, cari warung kopi, lalu lontarkan humor receh.
Jadi, Muktamar NU ke-35 bukan sekadar acara rutin organisasi di podium panggung besar. Muktamar adalah perayaan atas cara hidup kita: tetap ramah meski tanggal tua, tetap tersenyum meski masalah menumpuk, dan tidak gampang membenci sesama.
Mari kita meriahkan Muktamar ke-35 ini dengan merawat kedamaian dari hal terdekat: menyapa tetangga, memaafkan orang yang bikin kesal, dan memastikan cangkir kopi siapa pun yang mampir ke rumah kita tidak pernah kosong!
Your email address will not be published. Required fields are marked *