
Kalau ada yang bilang ujian terberat dalam biduk rumah tangga itu adalah godaan krisis paruh baya atau perbedaan visi misi masa depan, fix dia belum pernah ngerasain momen ketika wadah bekal bermerek hilang di area perkantoran. Pasangan yang sudah mengarungi bahtera rumah tangga bertahun-tahun itu biasanya kebal sama ombak besar. Tapi anehnya, mereka malah gampang limbung gara-gara hal-hal mikroskopis yang terjadinya di putaran rutinitas sehari-hari.
Kaum Emak dan Kaum Bapak adalah dua spesies berbeda yang disatukan oleh takdir, cinta, dan tagihan bulanan. Dalam perjalanan kebersamaan ini, ada saja "kerikil ajaib" yang siap menyandung keharmonisan di pagi, siang, maupun malam hari. Mari kita telusuri komedi situasi kehidupan Emak dan Bapak yang sering bikin emosi naik turun kayak roller coaster!
Bagi Kaum Bapak, kotak makan plastik itu cuma alat penyimpan nasi dan lauk. Mau hilang, mau ketinggalan di meja kantor, atau mau keputar di mobil temen, rasanya seperti hal biasa.
Tapi bagi Kaum Emak, kehilangan satu wadah plastik bermerek itu statusnya setara dengan ancaman kebangkrutan investasi keluarga. Kotak makan itu punya kasta! Begitu Bapak pulang kantor dengan tas laptop kempis tanpa membawa wadah bekal, Emak bakal menginterogasi dengan tatapan mata setajam detektif serial kriminal.
"Mana kotaknya, Pak?"
"Aduhh... ketinggalan di meja kantor, Mah."
Seketika atmosfer rumah berubah dingin. Buka puasa atau makan malam terasa canggung. Bapak merasa bersalah seolah-olah baru saja menghilangkan dokumen rahasia negara, padahal yang hilang cuma wadah plastik warna hijau toska yang tutupnya agak longgar.
Di malam hari saatnya beristirahat, perang dingin yang sebenarnya baru saja dimulai. Kaum Bapak itu punya generator panas internal yang luar biasa aktif. Bagi Bapak, tidur tanpa kipas angin yang berputar dengan kecepatan maksimum nomor 3 adalah bentuk penyiksaan fisik.
Sementara Kaum Emak punya sensitivitas suhu setara penguin. Kena angin dikit, langsung masuk angin. Akhirnya terjadilah kompromi paling aneh di atas kasur: kipas angin menyala kencang menghadap langsung ke arah Bapak kayak angin tornado, sementara Emak tidur di sebelahnya sambil dibungkus bedcover tebal dari ujung kaki sampai ujung kepala mirip pahlawan bertopeng.
Tengah malam, Bapak merasa kedinginan lalu mematikan kipas. Satu jam kemudian, Emak kebangunan karena kegerahan lalu nyalain kipas lagi. Begitu terus putarannya sampai subuh, bikin pagi hari diawali dengan muka dua-duanya yang sama-sama lemas kurang tidur.
Momen kebersamaan yang berisiko tinggi adalah saat Emak menyuruh Bapak pergi ke tukang sayur kompleks. Ini adalah ujian ketangkasan yang hampir 90% gagal dilalui oleh Kaum Bapak.
Emak memberikan instruksi singkat: "Pak, beliin daun salam, lengkuas, sama jahe. Ingat ya, LENGKUAS, bukan kencur!"
Sampai di tukang sayur, Bapak langsung berada dalam mode bingung total. Di mata Bapak, jahe, kunyit, kencur, lengkuas, dan temulawak itu bentuknya sama semua: rimpang-rimpang cokelat berdebu yang tidak punya identitas jelas. Setelah bertarung dengan batin selama 10 menit, Bapak pasrah membawa pulang kantong plastik berisi rimpang acak.
Begitu sampai rumah dan kantong dibuka: "Pak! Ini mah kunyit! Nanti sayur asem kita warnanya kuning dong?!" Dan harinya resmi diwarnai dengan kuliah singkat ilmu tumbuh-tumbuhan selama setengah jam.
Momen siap-siap mau pergi jalan-jalan atau ke acara keluarga selalu menyajikan plot twist terbaik. Kaum Emak butuh waktu dua jam untuk dandan, nyocokin warna kerudung sama baju, dan mencatok rambut. Selama dua jam itu, Kaum Bapak sudah siap dengan kemeja rapi, memanaskan mesin mobil/motor, dan bolak-balik ngecek jam tangan sambil mendesah sabar.
Tapi ironi kehidupan terjadi di detik terakhir. Pas Emak akhirnya keluar kamar dengan penampilan anggun dan bilang, "Yuk Pah, udah siap nih!", tiba-tiba perut Bapak memberikan sinyal darurat tingkat tinggi.
"Bentar Mah... kebelet boker."
Bapak pun menghilang ke dalam kamar mandi selama 20 menit. Emak yang sudah rapi dan pakai sepatu heel cuma bisa berdiri di garasi sambil kipas-kipas pakai dompet, menahan amarah agar bedak di wajah tidak luntur gara-gara emosi.
Kerikil yang satu ini menguji batas kesabaran Emak terhadap hobi menyimpan barang ala Bapak. Bapak punya prinsip hidup: "Kardus bekas TV, kipas angin, dan blender tahun 2015 JANGAN DIBUANG! Nanti kalau mau pindahan atau dijual lagi kan berguna."
Alhasil, di atas lemari pakaian atau di pojokan gudang menumpuk gunung kardus kosong yang sudah berdebu tebal dan jadi markas besar para kecoa. Bagi Emak, tumpukan kardus itu adalah perusak pemandangan estetika rumah. Setiap kali Emak mau membuang kardus itu ke tukang lobak, Bapak bakal memasang badan bagaikan benteng pertahanan.
Perdebatan mengenai nasib kardus kosong ini bisa berlangsung berhari-hari, memakan energi jiwa yang seharusnya bisa dipakai buat hal-hal yang lebih produktif.
Kebersamaan Kaum Emak dan Kaum Bapak memang tidak pernah lepas dari drama-drama kecil yang absurd ini. Kerikil-kerikil remah seperti kotak makan hilang, kebelet boker di menit terakhir, atau salah beli bumbu dapur memang sukses bikin kepala berdenyut.
Tapi anehnya, di balik semua omelan dan muka cemberut itu, kerikil-kerikil inilah yang justru bikin suasana rumah jadi ramai dan tidak sepi. Kalau sehari aja tidak ada yang ngomel soal kipas angin atau kardus bekas, rumah malah rasanya ada yang kurang. Jadi buat Emak dan Bapak di luar sana, kalau hari ini emosi gara-gara hal sepele, tertawakan saja... lalu lanjut makan bakso bareng!
Your email address will not be published. Required fields are marked *