
Zaman sekarang, kalau buka media sosial, isinya kalau gak pamer pencapaian umur 25 tahun udah punya perusahaan, ya tips hustle culture sampai tipes. Tuntutannya cuma satu: sukses, titik. Mau jalurnya lurus, zigzag, atau kayang, yang penting hasil akhir berkilau.
Saking kebeletnya pengen mandiri secara finansial (baca: kaya raya), banyak dari kita yang kalau berdoa minta rezeki itu malah kayak lagi nodong Tuhan. "Ya Allah, hamba butuh motor baru besok pagi, terserah deh caranya gimana!"
Eh, besoknya beneran dapet motor. Tapi hasil nemu di parkiran supermarket alias curanmor. Ya gak gitu konsepnya, Maliiih!
Ketika Doa dan "Ngegas" Beda Tipis
Sebagai seorang mukmin yang budiman dan estetik, kita sering lupa kalau doa itu satu paket sama iman. Tapi prakteknya di lapangan? Seringnya kita pakai prinsip machiavellian berkedok jalur langit.
Misalnya begini:
Ø Pengen jabatan naik: Alih-alih memperbaiki kinerja, kita malah sibuk cari muka ke bos sambil bawa gorengan tiap pagi, plus bonus "menyikut" temen kerja dari belakang pakai gosip miring. Pas dapet jabatannya, kita syukuran sambil bilang, "Alhamdulillah, ini berkat doa ibu." Lah, ibu kamu gak pernah ngajarin jadi cepu di kantor, Bambang!
Ø Pengen cepet sembuh: Pas lagi sakit, bukannya ke dokter spesialis yang rasional, kita malah nyari alternatif yang gak masuk akal. Mulai dari minum air yang dicelupin batu ajaib, sampai nanya ke dukun modern yang prakteknya pakai Google Maps. Dalihnya? "Yang penting kan usaha, ikhtiar!" Ikhtiar sih ikhtiar, tapi masa paru-paru basah diobatin pakai jampi-jampi daun kelor? Yang ada malah masuk angin stadium akhir!
Tauhid: Rem Blong di Dunia yang Serba Ngegas
Di sinilah indahnya Tauhid. Banyak orang mikir tauhid itu cuma soal pembahasan teologi yang berat di buku-buku agama. Padahal, tauhid itu adalah lifehack paling mutakhir buat kesehatan mental kita.
Intinya gini: Tauhid itu membebaskan manusia dari keyakinan bahwa "tujuan hidup dapat membenarkan segala cara".
Ketika kita beneran percaya kalau Allah yang mengatur segalanya, kita gak bakal jadi manusia yang desperate alias se-putus-asa itu.
Kamu gak perlu numbalin kejujuran demi dapet proyekan.
Kamu gak perlu nge-gengsi sampai minjol (pinjaman online) demi beli kopi aesthetic biar kelihatan mapan.
Tauhid itu bikin kita sadar kalau hasil akhir itu urusan Yang Di Atas, tugas kita cuma gerak di jalur yang bener. Jadi, kalau usahamu udah maksimal tapi hasilnya masih segitu-gitu aja, ya minimal hati kamu tenang karena gak dikejar-kejar rasa bersalah (atau dikejar debt collector).
Seni Menggapai Impian Tanpa Kehilangan Waras
Terus gimana caranya biar tetep bisa ngejar mimpi tanpa harus jadi "setan" berkedok manusia?
Gunakan Logika yang Sehat: Kalau mau kaya, ya kerja atau bisnis yang halal. Kalau sakit, ya ke dokter dan minum obat. Jangan dibalik: sakit ke dukun, pengen kaya malah pasang pesugihan berkedok investasi bodong.
Jaga Harga Diri: Jabatan tinggi itu gak bakal dibawa ke kubur. Kalau dapetnya hasil ngejilat dan nipu, percaya deh, tiap hari kamu bakal hidup paranoid takut ketahuan. Gak tenang, Cuy!
Pahami Kalau Rezeki Gak Bakal Ketuker: Rezeki kamu gak bakal diambil orang lain cuma karena kamu milih buat jujur. Kalau emang jatahmu, mau ditikung gimanapun bakal balik ke kamu. Kalau bukan jatahmu, dipaksa pakai cara haram pun bakal ilang dengan cara yang bikin nyesek.
Jadi, yuk mulai sekarang kita kurangi dosis ngegas yang menghalalkan segala cara. Mau sekaya apa pun kita nanti, atau setinggi apa pun jabatan kita, gak bakal ada gunanya kalau hati kita isinya cuma rasa waswas dan ketakutan.
Lagian, apa gak capek tiap malam tidur gak nyenyak gara-gara mikirin trik bohong buat besok pagi? Mending hidup santai, usaha maksimal, doa yang kenceng, dan biarkan jalur langit bekerja dengan cara yang berkah. Setuju?
Your email address will not be published. Required fields are marked *