
Pernah tidak kamu sama pasangan berantem hebat cuma gara-gara perkara handuk basah digeletakin di atas kasur, atau gara-gara remahan biskuit di atas sofa? Mulut sih bilangnya, “Iya, udah tak maafin kok.” Tapi pas minggu depan dia lupa mematikan AC kamar, kamu langsung mengeluarkan amunisi lama: “Tuh kan! Kamu emang dari jaman batu nggak pernah berubah! Ingat nggak tahun lalu kamu juga lupa mematikan keran air?!”
Selamat, kamu baru saja bertindak sebagai tim forensik hubungan! Memaafkan tapi masih menyimpan berkas perkara di dalam otak. Padahal, kalau mau hubungan adem dan panjang umur, kamu butuh satu jurus sakti warisan nenek moyang: legowo.
Biar tidak amnesia sama kelakuan sendiri, coba cek apakah kamu sering melakukan kebiasaan-kebiasaan ajaib ini:
Hobi Arkeologi Perasaan: Suka menggali kesalahan masa lalu yang kudunya sudah jadi fosil. Masalahnya hari ini, tapi pembahasan bisa mundur sampai masa kalian masih pendekatan.
Spesialis Aksi Bisu (Silent Treatment): Ditanya mau makan apa, cuma menjawab lewat lirikan mata tajam atau desahan napas seberat beban hidup.
Pasang Poin Pelanggaran: Menganggap hubungan mirip pertandingan sepak bola, lengkap dengan kartu kuning dan kartu merah di dalam kepala.
Mencatat dosa pasangan itu capeknya melebihi kerja lembur di kantor. Otak kamu yang harusnya dipakai buat memikirkan masa depan, malah habis kapasitasnya cuma buat mengingat-ingat kapan dia lupa memberi kabar pas lagi nongkrong.
Efek buruknya? Muka kamu bakal cemberut terus sampai dahi ketarik ke atas. Daripada uang tabungan habis buat beli krim anti-penuaan dini, mending latih otot ikhlas dari sekarang. Kedamaian jiwa itu murah, gengsi dan dendam yang bikin mahal!
Biar hubungan tidak mirip episode drama perang dingin, coba terapkan langkah-langkah kocak berikut:
Kalau masalah sudah selesai dibahas dan dia sudah meminta maaf, langsung hapus riwayat kejadian itu dari pikiranmu. Jangan disimpan di folder Bookmark! Kalau disimpan terus, otakmu bakal lemot gara-gara kebanyakan beban masa lalu.
Ingat, dalam hubungan itu tujuannya mencari kedamaian, bukan menang lomba debat antar-RT. Tidak ada piala bergilir buat pasangan yang paling sering menang argumen. Mengalah dan memaafkan duluan bukan berarti kamu kalah, tapi menandakan kamu lebih sayang sama ketenangan jiwa.
Kalau ada hal yang bikin ganjel di hati, katakan secara blak-blakan tapi santai. Jangan berharap pasanganmu bisa membaca pikiran pakai indra keenam. Dia itu manusia biasa, bukan dukun sakti yang bisa menerawang arti kata “aku nggak apa-apa”.
Dalam perjalanan sebuah hubungan, yang namanya gesekan itu pasti ada. Kadang kocak, kadang bikin elus dada. Tapi menyimpan dendam itu ibarat memelihara anak macan: makin lama dipelihara, makin bisa menerkam kebahagiaan kalian sendiri.
Mulai hari ini, mari terapkan prinsip legowo. Kalau ada ganjalan, selesaikan, maafkan, lalu ajak dia makan bakso pedas atau es krim bersama. Bukankah lebih indah menikmati makanan enak berdua daripada duduk berhadapan sambil saling tatap dengan pandangan bermusuhan?
Your email address will not be published. Required fields are marked *