
Mari kita mulai malam pergantian tahun baru Hijriyah 1448 ini dengan sebuah analogi yang sangat merakyat, lezat, dan menggemuk-kan: Semangkok Bakso.
Pernah nggak kamu perhatikan abang-abang tukang bakso pikul atau gerobak kalau lagi jalan kaki? Di dalam rombongnya, ada panci kuah yang penuh dan mangkok-mangkok yang siap saji. Pas gerobaknya lewat jalanan kompleks yang bolong-bolong atau polisi tidur yang tingginya nggak ngotak, apakah kuah baksonya langsung tumpah membanjiri jalanan?
Enggak, gaes. Abang baksonya punya skill keseimbangan dewa. Kuahnya cuma goyang dikit, wus wus, lalu tenang lagi.
Sekarang, coba bandingkan sama kita. Begitu azan magrib berkumandang nanti malam, kita resmi menginjakkan kaki di 1 Muharram 1448 H. Biasanya, pas momen tahun baru begini, "mangkok hidup" kita lagi penuh-penuhnya sama kuah berupa resolusi: tahun ini mau rajin tahajud, tahun ini skripsi harus kelar, tahun ini mau tobat total dari hobi dengerin gosip.
Tapi baru juga jalan beberapa hari di tahun 1448 H, cobaan hidup datang lewat polisi tidur takdir. Dosen pembimbing tiba-tiba minta revisi total dari Bab 1, sandal kesayangan ketuker di masjid pas shalat jumat, atau kuota internet habis pas lagi kritis-kritisnya. Di momen itu, apa yang terjadi sama "kuah" kesabaran kita?
Yaps, langsung TUMPAH RUAH! Kita langsung ngamuk, nangis di pojokan kamar, sambil mempertanyakan, "Kenapa dunia sekejam ini sama aku yang imut?"
Kalau kita bedah pakai ilmu per-bakso-an, kuah di mangkok kita gampang tumpah itu bukan karena badai hidupnya yang terlalu gempa, tapi karena dua hal kocak ini:
Orang kalau pegang mangkok sup panas sambil tegang, begitu kesenggol dikit pasti langsung kesiram. Nah, kita sering kali terlalu kaku sama rencana hidup sendiri. Kita pengen tahun 1447 H kemarin lulus kuliah, eh ternyata takdir berkata kita harus bayar UKT lagi di tahun 1448 H. Karena kita nggak bisa menerima kenyataan (low acceptance), kita pegang mangkok takdir itu dengan stres. Begitu kesenggol dikit, langsung tumpah jadi depresi.
Padahal, kunci abang bakso biar kuahnya nggak tumpah adalah kelenturan. Pas jalanan goyang, tangannya ikut fleksibel. Menerima kalau hidup ini emang kadang naik turun bikin mangkok kita jadi lebih stabil.
Niatnya mulia banget mau hijrah total di tahun baru 1448 H. Tapi kita maksa masukin semua target dalam satu waktu. Mau langsung khatam Qur'an tiga hari sekali, shalat sunnah seharian, plus ngerjain skripsi 24 jam nonstop tanpa tidur. Ya mohon maaf, kapasitas "mangkok" mental kita kan masih seukuran mangkok sambal, jangan dipaksain nampung kuah seember. Akhirnya baru mulai sehari, mental kita udah burnout duluan, kuahnya tumpah, mangkoknya pecah, kitanya malah balik rebahan.
Biar di tahun baru Hijriyah ini kita bisa se-pro abang bakso dalam menghadapi guncangan takdir, ini dia tips ringan nan hangat yang bisa kamu coba:
Mantra ini adalah penyeimbang mangkok paling sakti. Begitu kamu menghadapi kenyataan kalau tahun 1447 H kemarin rapor skripsimu masih jalan di tempat atau ibadahmu banyak bocornya, jangan diratapi sampai tahun depan. Langsung bilang: "Yaudah, terus gimana?"
Skripsi belum kelar sampai ganti tahun Hijriyah? Yaudah, terus gimana? Nanti malam abis doa awal tahun, buka laptopnya, ketik satu paragraf. Beres.
Target hijrah kemarin gagal karena khilaf? Yaudah, terus gimana? Namanya juga manusia, bukan malaikat. Nanti malam kita ketuk lagi pintu tobat-Nya, mulai lembaran baru.
Ini dia penyakit netizen zaman sekarang. Nanti malam pas tahun baru, timeline medsos pasti penuh sama postingan recap pencapaian orang lain yang luar biasa. Ada yang posting foto wisuda, foto nikahan, sampai foto berpose di depan Ka'bah.
Sementara kamu? Cuma bisa natap layar HP sambil megang dahi karena pusing mikirin revisian dosen. Begitu kamu sibuk ngelihat mangkok orang lain yang kelihatan lebih penuh dan estetik, mangkok kamu sendiri malah kemiringan dan tumpah. Ingat, gaes, porsi dan mangkok tiap orang itu beda. Fokus aja sama bakso di mangkokmu sendiri, oke?
Hidup berhijrah menuju kebaikan di tahun 1448 H ini bakal kerasa berat banget kalau kamu bawaannya tegang terus kayak tali jemuran. Kalau di tengah jalan kamu apes atau bikin kesalahan, coba ketawain diri sendiri pelan-pelan.
Misalnya, niatnya subuh pertama di tahun 1448 H mau shalat di masjid, eh malah kesiangan gara-gara semalam nonton bola. Daripada kamu ngerasa dikutuk jadi hamba jahanam, mending senyum ke cermin sambil ngebatin, "Ya ampun diri, baru hari pertama tahun baru udah minta remedial ya. Ya udah, mari kita wudhu sekarang sebelum matahari makin tinggi." Menertawakan kemalangan diri sendiri itu bikin beban di mangkok hidup langsung berkurang setengahnya.
Gaes, pergantian tahun dari 1447 H ke 1448 H ini bukan ajang balapan siapa yang mangkoknya paling mulus tanpa guncangan. Badai hidup itu bakal tetap ada, jalanan takdir akan selalu punya polisi tidur yang bikin kaget.
Tapi ingat, yang menentukan kuah hidupmu tumpah atau enggak bukan seberapa besar badai yang datang, melainkan seberapa jago kamu mengayunkan langkah penuh penerimaan dan keikhlasan. Tuhan nggak minta kita jadi manusia sempurna yang mangkoknya nggak pernah goyang, Tuhan cuma pengen melihat seberapa sering kita mau belajar menyeimbangkannya kembali setiap kali kita tersandung.
Tarik napas dalam-dalam, bersihkan sisa-sisa "kuah tumpah" di tahun 1447 H, dan mari kita angkat mangkok yang baru nanti malam dengan senyuman.
Selamat menyambut Tahun Baru Hijriyah 1448 H! Ngomong-ngomong, resolusi tahun barumu kali ini mau pakai bakso urat apa bakso telur, nih?
Your email address will not be published. Required fields are marked *