
Pernah nggak sih kamu lagi ngobrol sama temen (atau ngomong sama kaca), terus keluar kalimat sakti mandraguna ini: "Bukannya aku males, tapi aku tuh perfeksionis. Standarku tinggi. Kalau hasilnya nggak maksimal, mending nggak usah disentuh sekalian."
Duh, kedengarannya elit banget, kan? Padahal kalau mau jujur-jujuran sampai ke kerak bumi, kita bukannya punya standar sekelas CEO perusahaan multinasional. Kita cuma takut kelihatan cupu, takut dikritik, dan gengsi jadi pemula. Biar lebih relate, mari kita bedah "penyakit" ini di dua habitat alam liar yang paling sering jadi korbannya: Dunia Perkuliahan dan Medan Tempur Rumah Tangga.
Kasus 1: Tragedi Skripsi "Jalur Hadiah Nobel" (Edisi Mahasiswa)
Bagi kaum mahasiswa tingkat akhir, penyakit "standar tinggi" ini biasanya muncul pas lagi milih judul skripsi.
Temen-temen seangkatan udah pada acc judul kayak “Pengaruh Promosi Beli 1 Gratis 1 Terhadap Minat Beli Cireng Kang Asep”. Tapi kamu? Oh, tentu tidak. Kamu meremehkan judul itu.
Ekspektasi (Standar Tinggi): "Skripsi gue harus revolusioner! Gue mau meneliti dampak psikologis alien jika dipekerjakan sebagai staf HRD di perusahaan rintisan! Judul gue harus bikin dosen pembimbing menangis terharu dan langsung ngasih gelar S2 jalur VIP!"
Realita: Tiga semester berlalu. Boro-boro neliti alien, buka Microsoft Word aja rasanya laptop langsung panas dingin. Kursor kedap-kedip di halaman kosong selama 4 jam, berujung ditutup lagi karena "Ah, moodnya kurang dapet buat nulis kalimat pertama."
Fakta Pahitnya: Kamu bukannya nggak nemu judul yang sempurna. Kamu cuma takut pas nulis Bab 1, tulisanmu dikatain berantakan. Kamu takut pas bimbingan, draf tebalmu dicoret-coret spidol merah sampai mirip seni abstrak. Kamu menuntut skripsimu langsung sempurna dari rahimnya, padahal dosen aja tau, skripsi yang bagus itu bukan skripsi yang sempurna, tapi skripsi yang selesai.
Kasus 2: Misi Dapur Estetik ala Pinterest (Edisi Rumah Tangga)
Nah, buat yang udah berumah tangga, penyakit ini biasanya menular ke urusan decluttering (beres-beres rumah) atau masak-memasak.
Mari kita ambil contoh niat mulia seorang istri atau suami di akhir pekan: "Hari ini, aku akan menyulap rumah kita jadi gaya Japandi minimalis ala rumah-rumah selebgram!"
Ekspektasi (Standar Tinggi): Beli kotak storage anyaman rotan yang harganya bikin saldo e-wallet menjerit. Nonton tutorial Marie Kondo 5 episode berturut-turut. Pokoknya semua barang harus punya "rumah"-nya sendiri. Kalau ada satu panci yang gagangnya udah goyang, buang! Kita harus sempurna!
Realita: Kotak rotannya udah sampai dari tiga minggu lalu. Terus sekarang ada di mana? Numplek di pojokan ruang tamu, belum dibuka dari plastiknya, dan malah beralih fungsi jadi tempat nyimpen helm dan daster kotor.
Kenapa nggak mulai beres-beres? "Soalnya hari ini mataharinya kurang bersinar terang, jadi energi chi di rumah kurang mendukung buat decluttering yang hakiki." (Halah, alasan!). Atau soal masak. Pengennya nyobain resep Beef Wellington ala Gordon Ramsay, tapi karena nggak punya oven canggih, akhirnya berujung masak mi instan pakai telor—lagi.
Fakta Pahitnya: Kita sering nunda beres-beres atau masak menu baru karena ngerasa tools-nya nggak lengkap atau suasananya nggak sempurna. Kita lupa bahwa rumah tangga itu isinya ya manusia-manusia dengan baju daster bolong dikit dan kaos partai, bukan showroom IKEA.
Kesimpulan: Mari Rayakan "Kecupuan" Kita!
Entah kamu mahasiswa yang lagi menghindari dosen pembimbing, atau pejuang rumah tangga yang cucian piringnya udah setinggi Gunung Rinjani, sadarilah satu hal:
Sesuatu yang dikerjakan dengan "biasa aja" tapi selesai, jauh lebih berharga daripada ide brilian yang cuma nongkrong di dalem kepala.
Jadi pemula itu nggak dosa. Punya draf skripsi yang jelek itu normal. Punya ruang tamu yang bersihnya cuma tahan 10 menit sebelum diacak-acak anak, itu adalah seni kehidupan. Berhentilah bersembunyi di balik perisai kesempurnaan. Copot gengsimu.
Udah, mulai aja dulu. Kerjain aja sejelek mungkin. Nanti juga bisa diperbaiki sambil jalan. Karena sejatinya, nunggu segala sesuatu "selaras, indah, dan divalidasi tanpa cela" itu cuma mitos yang diciptakan oleh rasa malas yang pakai makeup.
Nah, setelah ngebaca realita pahit tapi kocak di atas, coba deh ngaku sejujur-jujurnya: proyek, tugas, atau kerjaan rumah apa yang sampai detik ini belum kamu sentuh dengan alasan nunggu "momen yang sempurna"?
Your email address will not be published. Required fields are marked *