
Pernah nggak sih, kamu lagi ngopi cantik, terus dengan wajah serius dan tatapan menerawang kamu bilang ke temen, "Gue tuh orangnya perfeksionis banget. Kalau ngerjain sesuatu, standarnya harus tinggi. Kalau nggak sempurna, mending nggak usah sekalian."
Temenmu manggut-manggut kagum. Wah, gila, cool banget. Berdedikasi tinggi.
Tapi mari kita jujur-jujuran aja di sini, mumpung nggak ada bos atau calon mertua yang denger. Beneran karena standar kamu setinggi langit, atau... kamu cuma takut kelihatan cupu di hari pertama?
Sindrom "Starter Pack" yang Berakhir Jadi Pajangan
Mari kita ambil contoh paling klasik: mau jadi content creator.
Otak kamu udah nyusun rencana epik. "Nanti videonya bergaya sinematik, lightingnya harus warm-tone ala-ala senja, audionya jernih tanpa suara tukang bakso lewat, dan script-nya harus sepintar Christopher Nolan."
Lalu apa yang kamu lakukan? Kamu beli kamera baru. Beli ring light. Beli microphone yang harganya bikin dompet menangis. Kamu bahkan langganan aplikasi editing premium dan bikin template jadwal di Notion yang estetik abis.
Tiga bulan kemudian? Kameranya masuk dus lagi. Ring light-nya cuma dipake buat nerangin muka pas lagi mau jepit bulu mata. Kenapa? Karena pas mau mulai take video pertama, kamu ngerasa, "Ah, rambut gue lagi lepek. Ah, lightingnya kurang pas. Ah, nunggu moodnya enak aja deh."
Hayo ngaku, barang mana di kamar kamu yang sekarang nasibnya lagi nunggu diposting di marketplace dengan caption: "Preloved, baru dipakai sekali buat tes doang"?
Kebenaran yang Agak Menampar (Tapi Bikin Sadar)
Sebenarnya, ada jenis perfeksionisme yang diam-diam menyamar sebagai tuntutan. Kita berlindung di balik tameng "standar tinggi" dan "nggak mau nerima hasil sembarangan".
Kedengarannya emang keren dan profesional banget. Tapi praktiknya? Tameng itu cuma berfungsi buat satu hal: Bikin kita nggak mulai-mulai.
Kita tuh bukannya nggak bisa nerima kalau kita nggak punya bakat. Kita cuma nggak terima harus jadi seorang pemula. Ibarat main game, kita pengennya baru bikin karakter langsung level 99, dapet armor naga, dan ngalahin boss terakhir. Kita ogah banget ngelewatin fase harus mukulin monster slime cupu di hutan sambil pakai baju zirah dari kayu. Gengsi, Bosse!
Takut Sama Bayangan Sendiri (dan Netizen Mbayang)
Kenapa sih kita gengsi jadi pemula? Karena jadi pemula itu artinya:
Hasil pertama kita pasti jelek. (Ini hukum alam, nggak bisa diganggu gugat).
Tulisan pertama kita bakal garing.
Bisnis pertama kita mungkin sepi pembeli.
Kita membayangkan ada ribuan mata (dan netizen julid) yang lagi siap-siap nge-judge kita. Padahal realitanya? Nggak ada yang peduli, Maimunah! Orang-orang sibuk mikirin cicilan paylater mereka sendiri, boro-boro mikirin postingan pertamamu yang typo dikit.
Kesempurnaan itu ilusi yang paling jago bikin kita jalan di tempat. Kita nunggu bintang sejajar, nunggu mood bagus, nunggu validasi tanpa cela. Akhirnya? Yang lain udah lari maraton sampai garis finish dengan gaya lari yang agak ngangkang, sementara kita masih jongkok di garis start sambil sibuk ngiketin tali sepatu biar simpulnya estetik.
Mari Rayakan "Kecupuan" Kita!
Jadi, buat kamu yang dari tahun lalu bilang mau mulai nulis buku, mau nge-gym, atau mau buka usaha tapi masih terjebak di fase "riset dan nyari vibe yang pas":
Udah, mulai aja dulu. Jelek juga nggak apa-apa.
Bikin karya yang berantakan. Tulis artikel yang agak canggung. Rekam video dengan pencahayaan seadanya. Izinkan diri kamu menjadi pemula yang nggak tahu apa-apa. Karena setiap master atau suhu yang sekarang kamu kagumi, dulunya juga pernah jadi pemula yang karyanya bikin mereka sendiri cringe kalau inget.
Berhenti bersembunyi di balik standar tinggi. Copot topeng perfeksionismemu, dan mari kita mulai melakukan hal-hal yang tidak sempurna hari ini.
Lagipula, lebih baik punya satu karya jelek yang selesai, daripada seratus ide brilian yang cuma ada di dalam kepala sambil rebahan. Ya, kan?
Your email address will not be published. Required fields are marked *