
Halo, Emak-emak strong seantero jagat raya! Dan halo juga para Bapak yang mungkin nyasar baca ini karena link-nya di-share istri dengan caption "BACA YA PAP!".
Hari ini kita mau bahas satu penyakit kronis yang sering menyerang wanita setelah melahirkan. Bukan, bukan sakit pinggang (walau itu nyata adanya). Penyakit ini namanya: Rasa Bersalah Tanpa Ujung.
Ngasih anak makan nugget karena lagi males masak sop? Merasa bersalah. Ngasih anak main HP biar bisa mandi 5 menit dengan tenang? Merasa bersalah. Beli daster baru padahal daster lama cuma bolong di ketiak dikit? Merasa bersalah.
Woy, Bun! Stop! Tarik napas. Hembuskan.
Mari kita luruskan satu fakta alam semesta: Ibu yang bahagia adalah kunci anak bahagia. Kalau ibunya stres, satu rumah hawanya kayak lagi nunggu gunung meletus.
Kenapa Ibu harus bahagia dan berhenti merasa bersalah? Ini alasan logis (dan kocak)-nya:
Ibu itu ibarat router WiFi. Kalau sinyal Ibu bagus (baca: hati senang), semua penghuni rumah terkoneksi dengan lancar, download kebahagiaan cepat, dan streaming kasih sayang lancar jaya.
Tapi... kalau sinyal Ibu down (baca: cemberut, ngomel, atau diam seribu bahasa), seisi rumah langsung lag, panik, dan bingung harus ngapain. Anak nangis nggak jelas, kucing jadi pendiam, dan cicak di dinding pun takut bunyi.
Jadi, membahagiakan diri sendiri itu bukan egois, Bun. Itu namanya maintenance server.
Sering kan liat di Instagram, ibu-ibu yang rumahnya putih bersih, anaknya makan brokoli kukus sambil tersenyum, dan ibunya pakai baju rapi jam 7 pagi? Itu mitos, Bun. Atau mungkin itu alien.
Anak kita nggak butuh ibu yang bisa masak 5 menu ala restoran tiap hari tapi mukanya ditekuk kayak dompet tanggal tua. Mereka lebih butuh Ibu yang masak telor ceplok (lagi), tapi makannya sambil ketawa-ketiwi dan nggak teriak, "AWAS TUMPAH YA!" setiap 3 detik.
Anak itu punya radar canggih. Mereka tahu lho kalau Ibunya lagi pura-pura senyum padahal dalam hati pengen nyemil paku.
Nah, ini poin penting kenapa artikel ini bermanfaat buat laki-laki.
Pak, dengerin baik-baik. Kalau Istri Bapak bahagia, Bapak adalah pemenang kehidupan sesungguhnya.
Istri Bahagia = Masakan enak, izin main futsal/hobi lancar, rumah adem ayem.
Istri Bad Mood karena Kebanyakan Nanggung Beban Mental = Bapak nanya "kaus kaki di mana" aja bisa memicu Perang Dunia ke-3.
Jadi Pak, kalau Istri mau me-time sebentar, mau beli skincare, atau cuma mau bengong di kasur tanpa diganggu, dukunglah. Jangan ditanya, "Kok males-malesan?". Itu bukan males, Pak. Itu lagi charging energi biar nanti malam Bapak nggak disembur api naga.
Investasi ke kebahagiaan istri adalah investasi ke kedamaian Bapak sendiri. Camkan itu.
Berhenti mikir kalau Ibu Baik itu harus menderita.
Ibu Baik itu boleh kok pesen GoFood kalau capek masak.
Ibu Baik itu boleh kok nyalain kartun buat anak biar bisa pup dengan tenang tanpa digedor pintu.
Ibu Baik itu boleh kok punya hobi selain ngelipet baju.
Anak akan mencontoh Ibunya. Kalau Ibunya bahagia, bisa menikmati hidup, dan sayang sama dirinya sendiri, anaknya bakal tumbuh jadi orang yang percaya diri dan bahagia juga. Kalau Ibunya insecure dan merasa bersalah mulu, nanti anaknya bingung, "Ibuku kenapa sih, kok kayak dikejar debt collector perasaannya?"
Mulai sekarang, kurangi rasa bersalahnya, tambahin rasa syukurnya (dan rasa cemilannya).
Rumah berantakan dikit? Bodo amat, nanti juga diberesin. Anak belum mandi sore padahal udah jam 5? Bodo amat, nggak bakal jamuran kok.
Peluk diri sendiri. Bilang, "Gue keren, gue waras, dan gue berhak bahagia."
Sekian kultum (kuliah terserah umum) hari ini. Selamat berbahagia, para Ratu Rumah Tangga dan para Bapak Penjaga Gawang Emosi Istri!
Your email address will not be published. Required fields are marked *