
Pernah nggak sih, kamu bangun tidur, lalu hal pertama yang kamu lakukan bukan minum air putih atau berdoa, tapi malah buka media sosial dan check postingan semalam?
"Wah, yang nge-like cuma 50 orang. Apa foto gue kurang estetik? Apa caption-nya terlalu curhat? Apa jangan-jangan mereka semua mikir gue kurang oke?"
Padahal, yang nge-like foto itu mungkin cuma emak kamu, dua teman dekat, dan satu orang yang nggak sengaja kepencet pas lagi scrolling sambil ngantuk. Tapi ya gitu, rasa panik itu nyata. Kita seolah-olah menjadikan dunia ini sebagai "cermin". Kalau dunia bilang kita oke, kita ngerasa oke. Kalau dunia lagi diam—atau lebih parah, lagi menghujat—kita ngerasa kayak butiran debu di sudut ruangan.
Cermin Itu Suka "Bercanda"
Masalah utamanya adalah: Cermin dunia ini seringkali rusak.
Bayangkan kamu bercermin di cermin yang bentuknya nggak beraturan, kayak di wahana rumah kaca. Kadang kamu kelihatan tinggi, kadang pendek, kadang muka kamu kelihatan penyok. Begitu juga dengan opini orang lain.
Hari ini, orang mungkin memuji kamu setinggi langit karena kamu berhasil mencapai target kerja. Tapi besok? Kalau kamu gagal atau melakukan kesalahan kecil, orang yang sama bisa saja berbalik meludah. Kalau hidup kamu disetir dari "pantulan" mereka, ya kamu bakal capek sendiri. Kamu bakal sibuk gonta-ganti baju dan gaya rambut cuma demi menyenangkan penonton yang selera humornya berubah tiap jam.
Hidup dengan cara menunggu pantulan luar itu kayak main game yang levelnya nggak ada habisnya. Menang satu level, belum tentu level selanjutnya bakal gampang. Stress banget, kan?
Jadi, Gimana Biar Nggak Kayak "Budak" Validasi?
Tenang, kita nggak perlu langsung pergi ke gunung buat bertapa atau jadi biksu biar bisa tenang. Kuncinya cuma satu: Coba balik fokusnya.
Stop Jadi "Pencari Sinyal"
Validasi itu kayak sinyal HP di lift. Kadang ada, kadang hilang. Kalau kamu hidup cuma buat nunggu sinyal "validasi", hidupmu bakal mati gaya di dalam lift. Coba deh, sesekali hidup tanpa perlu pengakuan. Kamu makan enak karena kamu lapar, bukan karena pengen pamer di story. Kamu pakai baju bagus karena kamu ngerasa nyaman, bukan karena pengen dibilang fashionable.
Sadari Bahwa Orang Lain Juga Lagi "Ribet" sama Hidupnya
Ini poin yang paling lucu sekaligus bikin tenang: Sebenarnya, orang lain itu nggak terlalu peduli sama hidup kamu. Kita sibuk banget mikirin, "Duh, apa ya pendapat mereka tentang gue?" Padahal, mereka juga lagi sibuk mikirin, "Duh, apa ya pendapat orang tentang gue?" Kita semua adalah sekumpulan orang yang sibuk menatap cermin, jadi sebenarnya nggak ada yang benar-benar melihat kita. Freeing, bukan?
Mulai "Ngobrol" Sama Diri Sendiri
Alih-alih nunggu orang lain bilang kamu keren, coba sesekali bilang ke diri sendiri, "Oke, hari ini lo udah berusaha maksimal. Kalau hasil belum sesuai, ya udah, yang penting lo nggak rebahan seharian sambil nyalahin nasib." Kedengarannya aneh? Mungkin. Tapi jauh lebih sehat daripada nunggu comment positif dari orang asing di internet.
Hidup Itu Milik Sendiri, Bukan Milik Penonton
Ketenangan itu bukan barang diskonan yang bisa dibeli lewat pujian orang lain. Ketenangan itu kayak wi-fi internal; kalau kamu punya, ya dia bakal ada terus. Kamu nggak perlu minta izin ke orang lain buat ngerasa cukup sama diri sendiri.
Dunia memang akan terus bercermin, memantulkan segala macam hal. Tapi ingat, kamu bukan pantulannya. Kamu adalah orang yang sedang berdiri di depan cermin itu. Jangan biarkan pantulan yang rusak itu mendikte siapa kamu sebenarnya.
Jadi, besok kalau kamu ngerasa pengen banget diakui sama dunia, coba tarik napas dalam-dalam, senyum tipis, lalu bilang: "Duh, gue terlalu keren buat pusingin opini orang yang bahkan nggak baca buku biografi gue."
Terdengar narsis? Mungkin. Tapi setidaknya, malam ini kamu bisa tidur nyenyak tanpa perlu refresh notifikasi tiap lima menit sekali, kan?
Gimana, apa kamu pernah ngerasa jadi "budak" validasi sampai lupa caranya bahagia dengan diri sendiri?
Your email address will not be published. Required fields are marked *