
Jam 11 malam adalah jam yang sangat rawan bagi kejiwaan seorang ibu. Anak sudah tidur dengan posisi bintang laut yang memakan 80% area kasur, sementara Emak terpojok di ujung ranjang, memegang HP, dan mulai melakukan aktivitas paling berbahaya di dunia: Scrolling Instagram dan TikTok.
Di tengah keheningan malam, algoritma FYP dengan teganya menyuguhkan video "Anak Selebgram".
Di video itu, tampak seorang balita berusia 3 tahun mengenakan baju aesthetic warna earth-tone (cokelat susu, beige, khaki). Balita itu sedang duduk manis di high chair kayu jati Belanda, memakan brokoli kukus dan salmon organik menggunakan garpu dengan sangat anggun. Lalu dia menatap kamera dan berkata, "Thank you for the delicious meal, Mommy. I love you."
Emak menelan ludah. Lalu perlahan menoleh ke arah anaknya sendiri yang sedang tidur mendengkur. Anak yang tadi sore baru saja bikin drama kolosal reog Ponorogo cuma gara-gara nugget bentuk dinosaurusnya patah di bagian leher. Anak yang kalau disuruh makan sayur, mulutnya terkunci rapat ngalahin brankas Bank Indonesia.
Seketika, awan gelap insecurity menyelimuti kepala. "Apakah gue ibu yang gagal? Kenapa anak gue nggak se-aesthetic anak selebgram? Kenapa baju anak gue selalu tabrak warna (kaos Spiderman merah, celana hijau neon)?!"
Mak, tarik napas dalam-dalam. Mari kita bedah realita di balik layar kaca ini agar kewarasan kita kembali utuh!
1. Ilusi Video 15 Detik vs Realita 24 Jam
Hal pertama yang wajib kita tanamkan di dalam otak: Media sosial adalah etalase toko. Orang cuma memajang barang yang bagus-bagus saja.
Video anak selebgram yang pinter baca buku sambil dengerin musik klasik itu durasinya cuma 15 sampai 60 detik, Mak. Kita nggak pernah tahu apa yang terjadi di menit ke-61!
Bisa jadi, tepat setelah sutradara (baca: emaknya) bilang “Cut!”, si anak langsung melempar brokoli itu ke muka babysitter-nya sambil teriak minta es krim.
Di balik satu video yang sempurna, percayalah ada 49 take yang gagal, ada ring light yang hampir kesenggol jatuh, dan ada janji-janji manis berbau suap: "Adek, akting makan sayur bentar ya, habis ini Mama kasih nonton YouTube dua jam!"
2. Pasukan Tak Kasatmata di Balik Layar
Ketika kita melihat ibu selebgram yang tetap langsing, wangi, dandan paripurna, dan rumahnya selalu kinclong meski punya tiga balita, jangan langsung merasa hina karena daster kita bolong di ketiak.
Ingat, Mak! Mereka punya Support System premium level dewa.
Ada Sus (Babysitter) 1 untuk jaga anak pertama, Sus 2 untuk anak kedua, ART untuk masak, ART untuk nyapu ngepel, dan sopir pribadi. Kalau anak mereka numpahin susu di karpet, si ibu selebgram tinggal teriak, "Sus, tolong bersihin ya." Lalu dia bisa lanjut skincare-an.
Lah, kalau anak kita numpahin susu? Kita yang teriak kaget, kita yang ngepel lantai, kita yang nyuci bajunya, dan kita juga yang nangis bombay ngeliat sisa susu di kaleng tinggal seduh buat besok pagi. Beda server, Mak! Nggak apple to apple kalau dibandingin.
3. Hukum Alam Minimarket yang Tidak Pandang Bulu
Ini rahasia terbesar yang selebgram nggak mau kita tahu: Lantai minimarket adalah tempat paling demokratis di dunia.
Tidak peduli seberapa kaya orang tuanya, seberapa banyak followers-nya, atau seberapa mahal baju branded yang dipakai si anak... kalau sudah dihadapkan pada rak camilan yang isinya Kinder Joy dan permen warna-warni, SEMUA ANAK BALITA ADALAH SAMA.
Anak selebgram juga pasti pernah tantrum! Mereka juga pasti pernah guling-guling di lantai minimarket depan kasir karena ibunya menolak belikan mainan robot-robotan yang harganya nggak masuk akal itu. Bedanya, pas mereka tantrum, ibunya punya bodyguard atau Sus yang langsung menggendong si anak ke Alphard yang AC-nya udah nyala.
Sementara kita? Kita harus menggotong si bocah yang lagi meronta-ronta kayak ikan lele darat, sambil senyum canggung dan minta maaf ke mbak kasir, lalu boncengin anak di motor matic menembus angin malam.
Rayakan Kekacauan Kita Sendiri!
Mak, berhenti membebani diri sendiri dengan standar ganda internet. Anak kita mungkin nggak bisa cas-cis-cus bahasa Inggris aksen British di umur 3 tahun. Anak kita mungkin hobinya main tanah dan bajunya selalu ada noda cokelat yang nggak bisa hilang walau udah direndam pemutih seharian.
Tapi ketahuilah, anak yang sehat, aktif, lari ke sana ke mari, dan doyan teriak itu adalah anak yang normal.
Rumah tangga yang berantakan, mainan yang selalu keinjak kaki di tengah malam (sakitnya luar biasa!), dan suara teriakan "MAMAAAAA!" setiap 5 menit sekali saat kita lagi buang air besar... itu semua adalah bukti bahwa rumah kita hidup. Bukti bahwa kita sedang membesarkan manusia beneran, bukan robot pajangan Instagram.
Jadi, malam ini, matikan HP-nya. Peluk anak kita yang lagi tidur ngiler itu. Bisikkan di telinganya, "Nak, kamu mungkin bukan anak selebgram yang bajunya estetik, tapi kamu adalah pemenang VIP di hati Mama." (Kecuali kalau besok pagi dia numpahin bedak lagi, itu beda cerita ya!).
Semangat terus, Emak-emak tangguh! Kalian sudah melakukan pekerjaan yang sangat luar biasa hebatnya hari ini!
Your email address will not be published. Required fields are marked *