
Pernah tidak jam dua malam, pas seluruh dunia sedang lelap-lelapnya tidur, otak kamu mendadak mutar rekaman ulang kejadian lima tahun lalu? Misalnya pas kamu kepeleset di depan gebetan—lengkap dengan gaya jatuh kayang—atau pas uang 50.000 melayang jatuh ke got. Akibatnya, kamu berguling-guling di kasur sampai subuh sambil batin: “Harusnya waktu itu gue balik badan terus pura-pura pingsan!”
Selamat, kamu sedang menyiksa mental sendiri secara sukarela! Nah, di sinilah pentingnya belajar merelakan alias legowo demi menyelamatkan akal sehat yang makin hari makin pas-pasan ini.
Menahan kenangan pahit, dendam, atau rasa kecewa itu ibarat kamu membawa kantong plastik berisi sampah busuk ke mana-mana. Mau ke mal dibawa, mau tidur dipeluk, mau mandi ditaruh di samping bak. Ya jelas pusing!
Kalau kamu malas latihan legowo, ini efek sampingnya buat kesehatan mental dan fisik kamu:
Asam lambung auto-naik: Sering menyalahkan kopi susu gula aren, padahal yang bikin lambung perih itu karena kamu belum move on dari mantan yang sudah punya anak dua.
Kualitas tidur setara ronde tinju: Tidur delapan jam tapi bangun-bangun malah capek, gara-gara di dalam mimpi kamu masih sibuk debat sama tetangga yang nyerobot antrean minyak goreng.
Memori otak penuh: Otak kamu jadi lelet kayak ponsel jadul karena kapasitasnya habis cuma buat menyimpan dendam. Padahal memori itu harusnya dipakai buat hal bermanfaat, misalnya mengingat password WiFi kafe.
Belajar legowo itu tidak perlu langsung memulainya dari hal berat seperti merelakan tanah warisan. Coba latihan dulu dari kejadian sehari-hari yang sering bikin emosi jiwa:
Merelakan Kembalian yang Diganti Permen: Dikasih kembalian permen tiga biji padahal kamu butuh uang koin buat bayar parkir. Ya sudah, legowo saja. Anggap saja itu investasi manis dalam dompet.
Merelakan Makanan yang Diambil Teman: Baru mau menyuap makanan satu sendok, teman sebelah bilang, “Icip dong sikit,” lalu diambil separuh. Tarik napas, hembuskan. Pahala berbagi itu luas, kawan.
Merelakan Mantan yang Sudah Bahagia: Kalau dia sudah bahagia sama orang lain, ikhlaskan. Lagian kalau dipikir-pikir, muka pacar barunya juga biasa saja, kan?
Biar pikiran kamu tidak gampang korslet saat kenyataan tidak sesuai ekspektasi, coba praktikkan jurus-jurus berikut:
Kalau ada kejadian apes, kasih waktu diri sendiri buat menangis, ngamuk, atau meratapi nasib selama lima menit saja. Setelah timer berbunyi, usap dada lalu ucapkan: “Dah ah, capek. Mending makan bakso.”
Baju impian habis stoknya? Bukan rezeki. Pesan tidak dibalas? Bukan rezeki. Dompet ketinggalan di rumah? Nah, kalau ini sih bukan soal rezeki, tapi murni keteledoran sendiri! Tapi intinya, kalimat ajaib ini efektif banget bikin pikiran langsung adem.
Daripada sibuk meratapi hal yang sudah hilang, mending alihkan energi buat hal yang menyenangkan. Otak kita itu cuma satu, kalau dipakai buat sedih terus, kasihan dia tidak pernah diajak jalan-jalan ke warung es krim.
Merelakan itu bukan tanda kamu lemah, melainkan tanda kamu sayang sama otak dan jantungmu sendiri. Kesehatan mental itu mahal harganya, sangat tidak sebanding kalau harus dikorbankan cuma gara-gara urusan sepele.
Mulai hari ini, yuk belajar melonggarkan genggaman. Kalau ada hal yang bikin nyesak tapi sudah tidak bisa diubah, lepaskan saja. Lagian menggenggam kenangan pahit terus-terusan itu bikin tangan pegal—mending dipake genggam gelas es teh manis pas cuaca lagi panas-panasnya!
Your email address will not be published. Required fields are marked *