
Pernahkah Anda merasa seperti Gladiator yang siap masuk arena saat berjalan menuju mimbar? Langkah tegap, dada membusung, materi sudah dihafal di luar kepala (saking di luarnya, sampai nggak mau masuk lagi). Anda merasa gagah. Mikrofon di tangan. Ratusan pasang mata menatap kagum.
Lalu Anda membuka mulut untuk poin ketiga yang sangat krusial... dan tiba-tiba... ZONK.
Kosong.
Hampa.
Gelap gulita.
Di dalam otak, rasanya seperti ada karyawan yang tidak sengaja mencabut kabel server. Error 404: File Not Found.
Itulah momen "mati gaya" paling epik dalam sejarah peradaban manusia.
Drama 5 Detik yang Terasa 5 Abad
Bagi jemaah atau murid di depan kita, itu mungkin cuma jeda 3 detik. Tapi bagi kita yang berdiri di depan? Rasanya seperti terjebak dalam ruang hampa udara selama satu dekade.
Gejala fisiknya selalu khas:
Senyum Terkunci: Bibir tetap tersenyum manis, tapi mata memancarkan sinyal SOS panik.
Gerakan Tangan Abstrak: Tangan kita mulai bergerak-gerak aneh di udara, seolah-olah sedang mencari sinyal Wi-Fi untuk mengunduh ingatan yang hilang.
Keringat Jagung: Muncul butiran keringat sebesar biji jagung di pelipis, padahal AC ruangan sedingin kutub utara.
Biasanya, kita akan mencoba teknik "mengulur waktu" yang klise. Kita ambil gelas air minum dengan gerakan slow motion yang sangat dramatis. Glek... glek... Sambil berharap air itu mengandung memory card cadangan.
Setelah minum, kita taruh gelas. Kita tatap lagi audiens. Dan... masih lupa juga. Ambyar.
Manusiawi vs. Sok Sempurna
Dulu, setiap kali momen ini terjadi, rasanya saya ingin menggali tanah di bawah mimbar dan menyamar jadi umbi-umbian saking malunya. Pulang ke rumah, saya akan merutuki diri sendiri: "Kenapa bisa lupa sih? Tadi kan sudah latihan! Dasar nggak profesional!"
Tapi, setelah beberapa kali "konser tunggal" dengan lirik yang lupa, saya mulai merenung (sambil ketawa miris).
Mungkin, Tuhan sengaja menyentil ingatan saya.
Bayangkan kalau kita tidak pernah lupa. Bayangkan kalau setiap ceramah kita sempurna, setiap intonasi pas, setiap dalil meluncur mulus seperti jalan tol baru diresmikan. Wah, bisa-bisa hidung kita mendongak sampai menyentuh plafon masjid. Kita bakal merasa hebat, merasa pintar, dan merasa paling "wow".
Di situlah letak humor ilahiah-nya.
Tepat saat kita merasa paling siap dan paling hebat, Tuhan cabut sedikit kabel memori itu. Ctek. Hilang.
Seketika, kita dipaksa turun ke bumi. Kita dipaksa sadar bahwa kita ini cuma manusia biasa yang sarapan nasi uduk dan bisa lupa naruh kunci motor. Kita bukan robot, apalagi malaikat.
Seni Menertawakan Diri Sendiri
Momen lupa itu mengajarkan saya satu ilmu tingkat tinggi yang tidak ada di buku tebal mana pun: Ilmu Ikhlas dan Seni "Ngeles" yang Jujur.
Sekarang, kalau saya lupa di tengah jalan, saya tidak lagi panik mencoba terlihat pintar. Saya berhenti sejenak, tersenyum lebar (kali ini senyum tulus, bukan senyum panik), lalu berkata jujur:
"Bapak Ibu sekalian, saking semangatnya saya melihat wajah cerah antum semua, poin ketiga saya mendadak kabur entah ke mana. Mari kita doakan semoga ingatannya segera pulang."
Dan tahukah Anda apa yang terjadi? Mereka tertawa. Suasana jadi cair. Tiba-tiba, jarak antara "penceramah" dan "pendengar" runtuh. Kita jadi sama-sama manusia yang bisa khilaf dan tertawa bareng. Hangat sekali rasanya.
Ternyata, audiens tidak butuh penceramah yang sempurna bak dewa. Mereka butuh manusia yang relate dengan kehidupan mereka. Manusia yang menunjukkan bahwa lupa itu wajar, dan bangkit dari lupa itu keren.
Kesimpulan: Ikhlaskan Saja
Jadi, untuk rekan-rekan seperjuangan yang pernah (atau sering) nge-blank di depan umum: Tenang, Anda tidak sendirian.
Anggap saja momen lupa itu adalah cara Tuhan berbisik mesra: "Hei, santai saja. Sempurna itu tugas-Ku. Tugasmu cuma menyampaikan semampumu."
Lupa itu manusiawi.
Grogi itu wajar.
Yang nggak wajar itu kalau Anda lupa materi, lalu diam-diam turun panggung dan pulang lewat pintu belakang. Itu namanya kabur.
Selamat berbicara, dan selamat menikmati setiap momen "hilang ingatan" dengan senyuman!
Your email address will not be published. Required fields are marked *