
Coba deh bayangkan jadi gula pasir sebentar saja.
Nasib jadi gula itu sebetulnya agak tragis kalau dipikir-pikir pakai emosi. Dia yang berjuang melarutkan diri, menanggung luka dilempar ke air panas, demi bikin segelas minuman jadi enak. Tapi begitu minuman itu dihidangkan dan difoto buat Feeds Instagram, apa judul caption-nya?
“Menikmati pahitnya kopi di kala senja.”
Permisi? Pahit dari mana? Orang gulanya dua sendok makan! Tapi ya begitu, yang dipuji-puji tetap si kopi. Mana pernah ada anak indie bikin puisi: “Aku, kamu, dan segelas air gula pasir.” Nggak ada. Gula selalu jadi pahlawan tanpa tanda jasa, tanpa tagging Instagram, dan tanpa royalti.
Tapi dari nasib si gula yang teraniaya secara popularitas ini, kita sebenarnya bisa belajar satu hal penting: kebaikan yang paling berdampak itu sering kali nggak butuh panggung.
Di kehidupan sehari-hari, kita pasti sering ketemu dua tipe manusia ini.
Tipe pertama adalah Tipe Kopi. Mereka ini orangnya bold, kelihatan banget di permukaan, dan siap berada di garis depan. Kalau di kantor, mereka yang maju presentasi di depan direksi. Kalau di tongkrongan, mereka yang pimpin obrolan dari A sampai Z.
Tipe kedua adalah Tipe Gula. Mereka kerja diam-diam di belakang layar. Nggak banyak gaya, nggak pernah bikin story berisi curhatan betapa sibuknya mereka, tapi kalau mereka cabut sehari saja, satu departemen bisa kacau balau.
Coba cek di sekitar kamu, pasti ada sosok-sosok 'gula' ini:
Pahlawan Galon Kantor: Sosok misterius yang selalu mengangkut galon baru ke atas dispenser tanpa pernah minta dinobatkan jadi Employee of the Month. Nggak ada piala buat dia, tapi tanpa dia, seisi kantor kena dehidrasi massal.
Seksi Rapet-Rapet di Kelompok Tugas: Orang yang nggak banyak omong waktu diskusi, tapi mendadak dokumen Word sudah rapi, daftar pustaka sudah pakai APA style, dan format margin sudah 4-4-3-3.
Teman Pemadam Kelaparan: Teman yang tiba-tiba ngeluarin keripik dari tas waktu jam-jam kritis rapat yang molor tiga jam. Dia nggak nyari pujian, cuma mau memastikan semua orang selamat dari asam lambung.
Zaman sekarang, semua orang berlomba-lomba mau jadi 'kopi'. Pengen kelihatan, pengen diakui, pengen dapat like, dan pengen dibilang "Wah, keren banget kamu!" Sampai-sampai, kalau bikin kebaikan tapi nggak difoto terus diunggah ke media sosial, rasanya kayak ada yang kurang.
Padahal ya, menjadi gula itu punya kebanggaan tingkat tinggi yang cuma bisa dipahami orang-orang berjiwa besar.
Gula itu nggak perlu teriak-teriak untuk membuktikan kalau dia ada. Cukup rasakan saja dampaknya.
Ketika kopi terasa enak, orang bakal bilang, "Kopinya pas banget!"
Gula di dalam cangkir cuma tersenyum manis sambil bilang dalam hati: Peran gue sukses.
Dia nggak butuh namanya dipanggil. Dia nggak butuh namanya ditulis di nota pesanan kedai kopi kekinian. Selama fungsi utamanya buat menyempurnakan rasa sudah kejadian, ya sudah. Job done. Simple.
Orang sering lupa sama keberadaan gula karena keberadaannya dianggap angin lalu. Tapi coba sekali-sekali bikin teh hangat tanpa gula. Pahit. Sepi. Kayak ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.
Di sinilah letak kehebatannya: orang-orang tipe gula baru terasa betapa berharganya mereka justru ketika mereka nggak ada.
Saat si pembawa galon cuti, baru deh pada bingung cara balik galon tanpa bikin ruangan banjir. Saat si perapi dokumen sakit, baru sadar kalau teman kelompok lainnya bahkan nggak tahu cara bikin Daftar Isi Otomatis di Microsoft Word.
Jadi buat kamu yang selama ini merasa sudah berjuang mati-matian di belakang panggung, sering dilupakan, atau kebaikannya nggak pernah di-highlight sama orang lain, jangan berkecil hati.
Kamu itu gula.
Tanpa kamu, dinamika di sekitarmu cuma bakal jadi seduhan air pahit yang bikin orang merem-melek ketagihan melambaikan tangan ke kamera.
Dunia mungkin lebih suka menyorot hal-hal yang mentereng dan kelihatan di permukaan. Tapi ingat, hal-hal manis dalam hidup—seperti rasa nyaman, ketenangan, dan kelancaran sebuah urusan—hampir selalu diciptakan oleh orang-orang yang rela larut tanpa perlu namanya disebut.
Jadi, nggak apa-apa kalau namamu nggak ada di caption. Yang penting, kehadiranmu bikin hidup orang lain jadi tidak terlalu pahit untuk dijalani.
Tetap semangat jadi gula, ya! Tapi ingat, cukup jadi gula filosofis aja, jangan sampai gula darah yang naik.
Your email address will not be published. Required fields are marked *