
Pernah nggak Mak nonton konser atau acara award di TV? Artisnya tampil cantik banget, bulu mata anti-badai, suara merdu kayak burung kenari, terus di akhir acara semua orang tepuk tangan sambil teriak: "I LOVE YOU, MBAK ARTIIIISSS!"
Si Artis senyum, membungkuk, dan merasa dunia milik dia sendiri. Tapi coba kita pikir pakai logika tukang sayur, Mak. Apakah si artis itu pasang lampu spotlight sendiri? Apakah dia tarik kabel sound system sambil pakai gaun mekar? Ya enggaklah!
Nah, dari sini kita bisa belajar satu hal penting: Di balik setiap orang yang "bersinar", ada pasukan "berkeringat" yang nggak kelihatan.
1. Artis Punya MUA, Mak Punya "Daster Sakti"
Artis bisa kelihatan mulus kayak jalan tol yang baru diaspal itu karena ada MUA (Make Up Artist) yang berjuang nutupin kantung mata. Di kehidupan nyata, Mak-mak juga punya "MUA" rahasia.
Siapa dia? Ya Tukang Kredit atau Abang Toko Kelontong yang nyediain skincare atau daster bahan adem. Tanpa daster yang nyaman, Mak mana bisa masak rendang dengan hati tenang? Kalau Mak masak enak dan dipuji suami, "Wah, masakan Bunda juara!", ingat Mak, tepuk tangan itu juga milik abang daster yang bikin Mak nggak kegerahan di dapur!
2. Tim Lighting vs. Abang PLN
Penyanyi di panggung kelihatan dramatis karena ada tim lighting. Cahaya kuning biar syahdu, cahaya merah biar membara.
Di rumah kita? Tim lighting kita adalah Abang PLN dan Tukang Lampu. Coba bayangkan pas Mak lagi dandan mau kondangan, tiba-tiba mati lampu. Yang tadinya mau pakai eyeliner biar kayak bidadari, malah jadi kayak kena tonjok karena miring-miring di kegelapan. Jadi, kalau Mak dipuji "Pangling ya, cantik banget!", jangan sombong. Itu juga berkat listrik yang stabil dan lampu LED yang terang benderang!
3. Tim Sound System vs. "Grup Rebana/Gosip"
Artis suaranya kedengeran enak karena ada yang ngatur mixer audio. Di keseharian kita, "audio" kita itu ya lingkungan sosial.
Mak bisa dianggap "Ibu teladan" di lingkungan itu karena ada grup pendukung yang nyebarin berita baik. Misalnya, tetangga yang bilang, "Eh, si Ibu itu rajin banget ya, jam 5 sore jemuran udah diangkat." Itu adalah tim promosi gratisan, Mak! Tanpa mereka yang "ngatur suara" di lingkungan RT, citra kita bisa hancur cuma gara-gara lupa buang sampah sekali.
Pelajaran Penting: Jangan Jadi "Artis" yang Lupa Daratan
Kadang kita merasa semua kesuksesan di rumah atau di kantor itu murni karena kehebatan kita.
"Aku hebat bisa nabung banyak!" (Lupa kalau suaminya rela nggak ganti sepatu 2 tahun).
"Anakku pinter juara kelas!" (Lupa kalau ada guru les yang sabarnya melebihi malaikat).
"Rumahku rapi banget!" (Lupa kalau ada mbak ART atau anak-anak yang mulai belajar naruh mainan di tempatnya).
Tepuk tangan penonton itu dibagi-bagi, Mak. Jangan diambil sendiri, nanti tangannya capek!
Kesimpulan: Berbagi Panggung Itu Indah
Jadi, mulai sekarang, kalau ada yang muji Mak, jangan cuma bilang "Iya dong, siapa dulu!". Coba sesekali bilang:
"Iya, makasih ya. Ini juga berkat suami yang nggak rewel, berkat anak-anak yang mau makan sayur, dan berkat abang galon yang nganternya cepet jadi aku nggak kehausan."
Dunia ini panggung sandiwara, tapi kru di belakang panggungnya itu nyata. Tanpa mereka, kita cuma artis kesepian yang nyanyi tanpa mikrofon di tengah kuburan. Serem, kan?
Your email address will not be published. Required fields are marked *