
Kalau ditanya apa penyebab orang mengalami burnout, jawaban yang keren biasanya tidak jauh-jauh dari beban kerja setinggi Gunung Everest, bos berkepribadian mirip antagonis telenovela, atau target penjualan yang angkanya mirip jumlah utang negara. Padahal, sering kali yang bikin kita ingin melambaikan tangan ke kamera bukan beban raksasa seperti itu. Kita ini sering kali kehabisan bensin jiwa justru gara-gara hal-hal mungil yang bentuknya tidak mencurigakan sama sekali.
Bayangkan kamu lagi jalan pakai sepatu paling keren milikmu. Kalau ada batu kali seukuran kepalan tangan di tengah jalan, kamu pasti bakal menghindar. Tapi kalau yang masuk ke dalam sepatumu adalah batu kerikil sekecil biji wijen? Kamu bakal memaksakan diri buat tetap jalan. "Ah, cuma ganjal dikit, nanti aja dikeluarkan."
Seratus meter pertama masih oke. Satu kilometer mulai berasa riut-riut. Dua kilometer kemudian, tumitmu lecet, hatimu panas, dan kamu rasanya ingin meratakan seluruh isi bumi. Nah, itulah persis gambaran bagaimana hal-hal sepele di keseharian perlahan-lahan mengikis kesehatan mental kita sampai berujung burnout!
Ini adalah bentuk penyiksaan psikologis paling halus dalam peradaban modern. Kamu punya charger yang kondisinya sudah hidup segan mati tak mau. Supaya daya listriknya masuk, kamu harus memutar kabelnya, menekuknya dengan sudut presisi 45 derajat, lalu menahannya memakai ganjalan buku tebal atau botol minyak kayu putih.
Setiap kali mau isi daya, kamu harus melakukan ritual akrobatik ini dengan napas tertahan dan hati yang berdebar. Begitu kamu tinggalkan sebentar, kabelnya bergeser semenit kemudian dan pengisian terhenti. Mikro-stres seperti ini kalau ditumpuk setiap hari selama enam bulan bisa membuat tingkat kesabaranmu setipis kertas minyak pasar subuh!
Di dunia kerja dan pergaulan, ada tipe orang yang kalau mau komunikasi malas mengetik, tapi kalau bicara panjangnya melebihi naskah proklamasi. Kamu lagi fokus-fokusnya dikejar deadline, tiba-tiba masuk voice note berdurasi 7 menit 43 detik.
Dengan perasaan cemas, kamu pakai earphone, mendengarkan rekaman itu dengan kecepatan 2x lipat. Menit pertama dia cerita soal cuaca, menit ketiga dia curhat soal kucingnya yang bersin, menit kelima dia ngomongin rasa es kopi, dan baru di detik-detik terakhir dia bilang, "Oh iya, dokumen yang kemarin yaudah oke kok, kirim aja."
Energi otak yang seharusnya dipakai buat berinovasi malah habis digunakan buat mendengarkan podcast dadakan yang tidak diminta.
Pernah punya meja kerja yang salah satu kakinya lebih pendek setengah milimeter? Setiap kali kamu mengetik dengan semangat membara, mejanya ikut bergetar ritmis seperti ada gempa lokal skala kecil. Atau pintu kamar mandi yang bunyinya melengking mirip suara kuntilanak tiap kali dibuka?
Hal-hal seperti ini kelihatan sepele dan sering kita maklumi dengan kalimat, "Ah, masih bisa dipakai ini." Tapi secara tidak sadar, otak kita terus-terusan memproses iritasi kecil tersebut. Otak kita dipaksa bertoleransi sama ketidaknyamanan yang berulang-ulang, sampai akhirnya kapasitas toleransi kita habis buat hal-hal yang benar-benar penting.
"Eh, tolong editin gambar ini sebentar dong, cuma 2 menit kok!"
"Bro, nitip beliin kopi di bawah ya, sekalian lewat kan?"
Satu permintaan mungil memang tidak membunuhmu. Tapi kalau dalam sehari ada sepuluh orang yang meminta "bantuan 2 menit", artinya kamu sudah kehilangan 20 menit waktu fokus, ditambah bonus buyarnya konsentrasi yang butuh waktu setengah jam buat mengembalikannya.
Kerikil berupa rasa tidak enak untuk berkata "tidak" ini adalah penyelundup burnout paling lihai. Kamu merasa tidak mengerjakan hal berat, tapi di akhir hari kamu merasa lelah luar biasa seolah-olah baru habis membajak sawah dua hektar.
Kamu cuma mau masuk ke satu aplikasi buat mengunduh dokumen kecil. Kamu ketik password biasa, lalu keluar tulisan merah mematikan: "Password Salah". Kamu coba lagi sekali lagi, tetap salah.
Akhirnya kamu pasrah dan menekan tombol Lupa Password. Kamu diminta bikin password baru. Pas kamu masukkan password yang biasa kamu pakai, aplikasinya menjerit: "Password tidak boleh sama dengan password sebelumnya!" Lho, katanya tadi salah?!
Demi menuruti kemauan sistem, kamu akhirnya bikin password baru yang mengombinasikan huruf kapital, angka, simbol bintang, nama hewan purba, dan rumus fisika kuantum. Lima menit kemudian ketika mau login lagi? Kamu sudah lupa lagi password rumit yang baru saja kamu ciptakan itu.
Burnout itu jarang sekali terjadi secara mendadak seperti disambar petir di siang bolong. Burnout lebih sering mirip seperti kebocoran halus pada ban sepeda: tidak kedengaran suaranya, tapi tahu-tahu kamu sudah jalan pakai velg karena anginnya habis perlahan-lahan.
Jadi, kalau hari ini kamu merasa capek banget tapi bingung alasannya apa karena merasa pekerjaanmu biasa-biasa saja, coba cek sepatumu. BISA JADI di sana ada banyak kerikil kecil yang belum kamu keluarkan.
Ganti kabel charger-mu yang sudah sekarat itu, matikan notifikasi grup yang isinya cuma stiker bergerak, dan mulailah berani bilang "Nggak bisa, lagi sibuk" untuk hal-hal yang menguras energimu. Lepas sepatumu, kibaskan kerikilnya, dan berjalanlah lagi dengan perasaan yang jauh lebih ringan!
Your email address will not be published. Required fields are marked *