
Bangun tidur ku terus... scroll. Hayo ngaku, siapa yang rutinitas paginya kayak gini? Mata baru kebuka sebelah, nyawa masih loading di awang-awang, tapi jempol udah otomatis buka X (dulu Twitter), TikTok, atau Instagram. Niatnya sih biar melek, eh tapi kok malah jadi darah tinggi?
Baru lima menit buka HP, otak kita udah dibombardir sama ratusan info beda server. Mulai dari update geopolitik dunia, drama influencer rebutan pacar, video kucing oren nyangkut di genteng, sampai perdebatan abadi soal bubur ayam diaduk vs nggak diaduk yang nggak kelar-kelar dari zaman Majapahit.
Secara teori, dengan asupan informasi sebanyak itu setiap hari, kita harusnya udah berevolusi jadi manusia super cerdas setara Albert Einstein. Tapi praktiknya? Boro-boro jadi Einstein, yang ada kita malah sering berubah jadi Godzilla yang siap menyemburkan api tiap baca kolom komentar!
Kenapa bisa begitu? Yuk, mari kita bedah fenomena kocak tapi miris ini tanpa perlu ngegas!
1. Wawasan Seluas Samudera, Kesabaran Setipis Tisu Dibagi Dua
Pernah nggak kamu ngerasa bingung sendiri sama isi kepalamu? Di satu sisi, kamu paham cara kerja black hole (berkat video Reels 1 menit), hafal istilah-istilah psikologi mentereng kayak gaslighting dan inner child, dan tahu persis kronologi skandal artis A sampai Z. Keren banget, kan?
Tapi di sisi lain, kesabaran kita gampang banget ambyar. Cuma gara-gara liat orang salah kasih lampu sein di video dashcam orang lain, kita bisa emosi sampai ubun-ubun mendidih. Kita tahu banyak hal, tapi pengetahuan itu bukannya bikin kita bijak, malah bikin kita overthinking dan gampang tersinggung. Ini otak apa panci presto? Bawaannya pengen ngebul terus!
2. Sindrom FOMO Tanggapan (Harus Punya Opini Buat Segala Hal)
Karena timeline kita isinya macem-macem, kita jadi ngerasa punya kewajiban moral untuk memberikan tanggapan pada semua isu yang lewat.
Ada berita ekonomi? Kita mendadak jadi pakar moneter.
Ada drama perselingkuhan? Kita otomatis jadi detektif swasta + konsultan pernikahan.
Ada yang salah sebut nama makanan? Kita langsung menjelma jadi chef bintang lima yang siap mengkritik.
Padahal, bestie, kita ini bukan pengamat PBB yang dimintai pendapatnya oleh dunia. Terkadang, saking pusingnya mikirin masalah orang di internet, kita sampai lupa kalau cucian di rumah udah numpuk tiga hari belum dijemur. Kita terlalu sibuk ngurusin red flag orang lain, sampai lupa kalau di dapur gas udah bunyi tit tit tit minta diganti.
3. Algoritma Emang "Sengaja" Bikin Kita Kepancing
Nah, ini fakta fun (tapi nggak fun-fun amat) dari kacamata teknologi. Aplikasi media sosial itu pinter banget. Mereka tahu kalau emosi yang paling cepat memicu orang untuk engaging (komen, share, atau marah-marah) adalah rasa kesal.
Makanya, algoritma hobi banget nyodorin konten yang bikin kita trigger. Video orang ngomong hal absurd, opini nyeleneh, atau tingkah laku yang bikin cringe. Semakin kamu marah, semakin lama kamu stay di aplikasi itu buat baca komentarnya. Jadi, pas kamu lagi emosi ngetik balasan panjang lebar ke akun anonim bergambar anime, algoritma di markas besarnya lagi tersenyum puas melihatmu masuk perangkap. Kita dikerjain, Gais!
Kesimpulan: Waktunya Diet Informasi!
Ibarat perut, otak kita juga bisa diare kalau dikasih makan sembarangan terus-terusan. Nggak semua informasi di timeline itu bergizi. Kadang ada yang cuma junk food buat pikiran kita.
Punya banyak wawasan itu bagus, tapi kalau wawasan itu ujung-ujungnya cuma bikin kita gampang julid, gampang marah, dan susah tidur, mungkin udah saatnya kita ngerem. Kita harus mulai belajar ilmu bodo amat tingkat dewa.
Liat konten ngeselin? Scroll aja.
Liat orang debat kusir? Skip aja, mending tonton video tutorial masak ayam geprek.
Liat opini aneh? Ingat, membiarkan orang lain salah di internet itu bukan sebuah dosa.
Jadi, besok pagi pas bangun tidur, mending minum air putih dulu, regangkan badan, dan hirup udara segar. Ingat, timeline nggak akan kiamat kok kalau kamu telat update gosip hari ini! Semangat rebahan dengan damai!
Your email address will not be published. Required fields are marked *