
Pernah nggak sih kamu tiba-tiba merasa di- upgrade jadi manusia paling suci se-kecamatan?
Mendadak kamu pengen ngurung diri di kamar, gelar sajadah seharian, zikir ribuan kali, dan menatap nanar teman-temanmu yang masih sibuk antre seblak atau rebutan war tiket konser. Dalam hatimu berbisik, "Duh, kasihan mereka, masih terjebak duniawi. Untung aku sudah hijrah dan fokus ibadah."
Wah, selamat! Kamu baru saja masuk ke dalam jebakan Syahwat Khofiyyah alias nafsu level ninja!
Apa Itu Syahwat Khofiyyah? (Bukan Nama Menu Makanan, Ya)
Kalau dengar kata "nafsu", yang kebayang di otak kita biasanya nafsu makan (lihat promo All You Can Eat langsung kalap) atau nafsu belanja (keranjang Shopee isinya 99+ barang yang nggak dibeli-beli). Itu namanya nafsu terang-terangan.
Nah, Syahwat Khofiyyah ini artinya nafsu terselubung. Dia pintar banget cosplay jadi malaikat. Bentuknya bukan dorongan buat berbuat maksiat, melainkan dorongan buat... kelihatan saleh, merasa lebih baik dari orang lain, dan gila hormat!
Jahatnya nafsu yang satu ini, dia bikin kita merasa sedang on the track menuju surga VIP, padahal ego kita lagi asyik nge- drift nyari pengakuan. Biar gampang, mari kita lihat case study di kehidupan sehari-hari:
1. Tragedi Emak vs Salat Duha 8 Rakaat
Coba bayangkan skenario ini: Kamu lagi khusyuk banget salat Duha di kamar. Cahaya matahari pagi menembus jendela, estetik banget kayak di video klip lagu religi. Tiba-tiba, dari arah dapur terdengar teriakan melengking:
"Tooooong! Beliin gas melon di warung depan dong! Emak mau masak nih, keburu gosong bumbunya!"
Apa reaksimu? Kalau kamu berdecak kesal, "Ck, Emak ini ganggu aja sih! Orang lagi khusyuk komunikasi sama Tuhan juga," nah... sirine Syahwat Khofiyyah langsung bunyi: Ngiu ngiu ngiu!
Kamu lebih memilih mengejar ibadah sunah (Duha) yang bikin kamu merasa "suci", tapi malah ngedumel pas disuruh ngerjain ibadah wajib (berbakti sama orang tua). Kenapa? Karena beli gas melon itu nggak keren. Keringetan, berat, nggak estetik. Sedangkan salat di kamar itu rasanya glorious banget. Padahal di mata Tuhan, senyum sambil gotong gas buat Emak itu pahalanya gede banget, lho!
2. Sindrom Tahajud Estetik (Malaikat Rakib & Atid Bingung)
Ini penyakit kekinian. Bangun jam 3 pagi, ambil wudu, lalu gelar sajadah. Tapi sebelum takbir, ambil smartphone dulu. Cekrek! Foto sajadah dengan lighting remang-remang. Masuk ke Insta Story pakai caption huruf kecil semua (biar indie): "hanya pada-Mu hamba mengadu di sepertiga malam... ngantuk sih, tapi panggilan-Nya lebih kuat."
Bro, Sis... itu kamu lagi laporan ke Tuhan atau laporan ke followers?
Keinginan "fokus ibadah" kadang-kadang cuma kedok karena di alam bawah sadar, kita pengen banget dipuji: "Wah, gila sih si Fulan, mainnya sepertiga malam." Ini adalah bentuk nafsu terselubung. Kita menikmati sanjungan manusia lewat jalur ibadah.
3. Merasa "Si Paling Akhirat" di Tongkrongan
Efek samping lain dari nafsu terselubung ini adalah gampang nge- judge orang. Saat temanmu curhat soal cicilan KPR atau susahnya cari kerja, kamu dengan entengnya (dan dengan wajah sok bijak) bilang, "Makanya bro, perbanyak selawat. Dunia ini cuma mampir minum. Gue sih sekarang udah nggak mikirin dunia, fokus ngaji aja tiap hari."
Jleeeeb. Bukannya berempati, kamu malah pakai tameng agama buat nunjukin seolah level spiritualmu lebih tinggi dari dia. Padahal, temanmu yang lagi pusing cari rezeki halal buat anak istrinya itu juga lagi beribadah, lho!
Jadi, Harus Gimana Dong?
Santai, jangan langsung gulung sajadah dan berhenti ibadah juga. Kuncinya cuma satu: Cek Niat dan Tetap Membumi.
Tuhan nggak butuh ibadah kita yang sampai mengabaikan kewajiban kita sebagai manusia biasa. Mau rajin zikir? Gas! Mau puasa sunah tiap hari? Silakan! Tapi kalau setelah zikir kamu malah sinis sama tetangga, atau gara-gara puasa kamu jadi gampang marah sama teman karena laper, berarti ada yang salah sama sistem operasinya.
Ibadah yang sejati itu justru bikin kita makin rendah hati, makin chill, dan makin gampang nyambung sama orang lain. Nggak perlu merasa jadi "Si Paling Suci", karena ujung-ujungnya, kita semua sama-sama hamba yang lagi berjuang cari rida-Nya (dan berjuang nunggu gajian turun).
Your email address will not be published. Required fields are marked *