
Mari kita bicara jujur. Momen paling membahagiakan dalam hidup itu bukan saat kita traveling ke Bali dan foto dengan sunset (itu panas, bestie, dan antreannya panjang).
Momen paling membahagiakan yang hakiki adalah detik-detik saat kamu masuk kamar, kunci pintu, dan... melepas celana jeans yang rasanya mencekik pinggang seharian.
Haaah... Surga dunia.
Di momen itu, tombol "Mode Citra Diri" di otak kita dimatikan. Kita berubah dari "Manusia Profesional yang Berwibawa" menjadi "Makhluk Gua yang Pakai Kaos Partai Tahun 2004".
Inilah yang saya sebut sebagai Bahagia yang Sunyi. Sunyi karena nggak ada yang tahu (dan sebaiknya memang jangan ada yang tahu, demi reputasi kita bersama).
Festival Keanehan Tanpa Penonton
Pernah nggak kamu sadar, kalau versi diri kita saat sendirian itu sebenarnya agak... ajaib?
Kalau ada kamera CCTV yang merekam kegiatan saya saat sendirian di rumah, mungkin saya sudah dimasukin ke rumah sakit jiwa atau minimal viral sebagai "Orang Aneh Sedunia".
Saat tidak ada yang menonton, kita punya kebebasan absolut untuk melakukan hal-hal absurd yang bikin hati senang:
Konser Tunggal Kamar Mandi: Kita nyanyi lagu galau dengan suara pas-pasan sambil megang gayung seolah itu piala Grammy. Kita bikin pidato kemenangan imajiner sambil andukan. "Terima kasih untuk sabun cair yang selalu mendukung saya..."
Masterchef Jalur Darurat: Kita masak mie instan, dicampur nasi sisa kemarin, dikasih kerupuk mlempem, lalu dimakan langsung dari pancinya karena males cuci piring. Tampilannya kayak muntahan kucing, tapi rasanya? Michelin Star lewat!
Tarian Cacing Kepanasan: Tiba-tiba joget nggak jelas karena nemu lagu enak di Spotify. Gerakannya nggak estetik sama sekali, murni kayak cacing kena garam. Tapi rasanya lega banget.
Coba bayangkan kalau kegiatan di atas kita post di Instagram Story.
"Guys, ini tutorial makan mie langsung dari panci biar hemat sabun cuci piring ya!"
Pasti followers langsung kabur.
Tapi justru di situlah letak indahnya.
Kenapa Kita Butuh Mode "Pesawat Terbang"?
Dunia luar itu berisik. Kita dituntut harus cantik, ganteng, pinter, kaya, dan estetik 24 jam. Itu capeknya sampai ke tulang sumsum.
Bahagia yang sunyi adalah momen di mana kita nggak perlu validasi siapa-siapa. Kita nggak perlu angle kamera yang bikin pipi tirus. Kita nggak perlu pura-pura ketawa sama lelucon bos yang garing.
Saat sendirian, kita valid cuma karena kita nyaman.
Kebahagiaan jenis ini bentuknya receh banget:
Bisa garuk punggung sepuasnya tanpa jaim.
Bisa nangis sesenggukan nonton drakor tanpa takut dibilang cengeng.
Bisa ngomong sama kucing peliharaan (dan pura-pura ngerti jawabannya). "Apa Meng? Kamu setuju kan ekonomi global lagi sulit?"
Bahagia Nggak Harus "Breaking News"
Kita sering lupa bahwa kebahagiaan itu nggak harus diumumkan. Ada tekanan aneh di zaman sekarang yang bilang: "No pic = Hoax." Kalau nggak diposting, berarti nggak kejadian.
Padahal, rasa soto ayam yang kuahnya masih panas itu tetap enak walau nggak difoto. Pelukan sama orang tersayang itu tetap hangat walau nggak direkam boomerang. Ketawa ngakak sampai sakit perut karena hal bodoh itu tetap menyembuhkan walau nggak masuk TikTok.
Menemukan nyaman saat tidak ada yang menonton itu seperti nge-cas HP yang baterainya tinggal 1%. Kita butuh diam, kita butuh tenang, biar energinya penuh lagi.
Nikmati Kesunyianmu
Jadi, tulisan ini adalah surat izin resmi buat kamu.
Izin untuk jadi jelek di rumah. Izin untuk pakai daster bolong atau celana kolor kendor. Izin untuk makan belepotan. Izin untuk tidak membagikan apa-apa hari ini.
Simpanlah beberapa kebahagiaan cuma buat dirimu sendiri. Biarkan itu jadi rahasia kecil antara kamu dan Tuhan (dan mungkin kucingmu).
Karena percayalah, sekeren-kerennya feed Instagram seseorang, dia pasti pernah ngupil diam-diam saat nggak ada yang lihat. Dan di momen itulah, dia merasakan kebebasan yang sesungguhnya.
Selamat menikmati bahagiamu yang sunyi, Kawan. Jangan lupa kunci pintu!
Your email address will not be published. Required fields are marked *