
Pernah nggak kita mikir, kenapa manusia dikasih dua mata, dua telinga, tapi mulut cuma satu?
Padahal kalau dilihat dari aktivitas harian, justru mulut ini yang paling sibuk. Mata kadang cuma dipakai buat lihat status WhatsApp orang, telinga kadang pura-pura nggak dengar kalau disuruh buang sampah, tapi mulut? Masya Allah, produktif sekali. Dari pagi sampai malam bisa menghasilkan komentar, nasihat, keluhan, sindiran, ceramah dadakan, sampai debat nasional hanya karena pertanyaan sederhana:
“Siapa yang terakhir makan kerupuk tapi nggak nutup toples?”
Dari sinilah tubuh kita sebenarnya sedang memberi pelajaran besar: lebih banyak melihat, lebih banyak mendengar, dan lebih sedikit berbicara sembarangan. Tapi namanya juga manusia. Teorinya paham, praktiknya kadang seperti grup keluarga menjelang Lebaran: ramai, panjang, dan susah dihentikan.
Allah memberi kita dua mata bukan hanya untuk melihat promo marketplace atau memantau tetangga yang baru beli kulkas dua pintu. Dua mata juga mengajarkan kita untuk melihat sesuatu lebih utuh sebelum menghakimi.
Dalam keluarga, masalah sering muncul bukan karena kejadian besar, tapi karena kita terlalu cepat menyimpulkan. Anak bangun siang, orang tua langsung keluar jurus klasik:
“Kerjaan kamu tidur terus! Ayam aja kalah!”
Padahal bisa saja anak itu semalam begadang mengerjakan tugas. Bisa juga bantu teman. Bisa juga, ya… main game sampai jam dua pagi. Oke, yang terakhir memang agak sulit dibela, tapi tetap saja, kita perlu melihat lebih lengkap sebelum mulut mengambil alih seperti komentator pertandingan final.
Begitu juga dalam rumah tangga. Suami pulang kerja dengan wajah lelah, istri langsung curiga, “Kok diam aja? Pasti ada apa-apa. Jangan-jangan bosan.”
Padahal dalam kepala suami cuma ada satu kalimat sederhana:
“Nasi masih ada nggak ya?”
Kadang konflik keluarga bukan karena tidak sayang, tapi karena mata melihat sedikit, pikiran menambah drama, lalu mulut menyelesaikan dengan kalimat yang tidak perlu. Akhirnya yang tadinya cuma lapar berubah jadi perang dingin.
Selain dua mata, kita juga diberi dua telinga. Ini lebih berat lagi pelajarannya, karena mendengar itu kelihatannya mudah, tapi praktiknya luar biasa menantang. Banyak orang mendengar bukan untuk memahami, tapi untuk menunggu giliran membalas.
Anak baru bilang, “Bu, tadi aku capek banget di sekolah…”
Belum selesai cerita, ibunya sudah masuk:
“Makanya jangan tidur malam-malam! Ibu bilang juga apa!”
Padahal anak baru mulai episode pertama, tapi sudah dipotong seperti sinetron kejar tayang. Suami cerita, “Di kantor tadi banyak masalah…”
Istri menjawab, “Masalah? Aku dari pagi di rumah juga banyak masalah. Mesin cuci rusak, anak rewel, gas habis, kucing tetangga masuk dapur!”
Akhirnya bukan saling mendengar, tapi saling adu penderitaan. Seolah-olah sedang lomba: siapa yang paling capek, dia yang menang. Padahal keluarga bukan tempat kompetisi lelah nasional. Keluarga adalah tempat pulang, tempat seseorang boleh bercerita tanpa langsung disidang.
Kadang yang dibutuhkan pasangan, anak, orang tua, atau saudara bukan ceramah panjang. Mereka cuma ingin didengar. Bukan langsung diberi pembukaan, isi, kesimpulan, dan daftar pustaka pengalaman masa lalu:
“Dulu zaman Ayah…”
“Dulu waktu Ibu kecil…”
“Dulu kakek kamu…”
Lama-lama yang curhat bingung, ini sedang didengarkan atau diajak masuk museum keluarga?
Lalu, ada satu mulut. Kecil bentuknya, tapi efeknya bisa luar biasa. Dengan mulut, kita bisa membuat orang merasa dicintai. Tapi dengan mulut juga, kita bisa membuat orang sakit hati bertahun-tahun.
Kadang luka karena jatuh dari motor lebih cepat sembuh daripada luka karena kalimat:
“Kamu tuh nggak pernah bisa diandalkan.”
“Gitu aja nggak bisa.”
“Percuma dinasihati.”
Kalimat seperti itu mungkin keluar hanya beberapa detik, tapi bisa tinggal lama di hati seseorang. Apalagi kalau diucapkan oleh orang terdekat. Sebab yang paling menyakitkan sering bukan kata-kata dari orang jauh, tapi dari orang yang kita sayangi.
Di rumah, mulut sering jadi sumber keributan paling produktif. Piring pecah, yang pecah sebenarnya cuma satu. Tapi komentar setelahnya bisa pecah ke mana-mana.
“Makanya hati-hati!”
“Dari dulu kamu ceroboh!”
“Lihat tuh, kerjaan nambah lagi!”
Padahal piringnya sudah pecah. Mau dimarahi sampai subuh juga piringnya tidak akan tobat lalu menyatu kembali. Yang ada, piring pecah, hati ikut retak.
Anehnya, dengan orang luar kita bisa sangat sopan. Ketemu tetangga:
“Silakan, Bu. Nggak apa-apa, Bu. Santai saja, Bu.”
Ketemu teman kantor:
“Terima kasih banyak, mohon maaf merepotkan.”
Tapi di rumah?
“Ambilin minum!”
“Cepetan dong!”
“Ya ampun, gitu aja nggak ngerti!”
Hebatnya, orang luar sering mendapat versi terbaik dari diri kita, sementara keluarga mendapat versi mentahnya: muka lelah, suara tinggi, dan paket lengkap keluhan harian. Padahal keluarga adalah orang-orang yang paling pantas menerima kata-kata terbaik kita.
Dalam keluarga, berbeda pendapat itu wajar. Istri ingin makan bakso, suami ingin nasi goreng, anak ingin ayam geprek. Ujung-ujungnya semua makan mi instan karena kelamaan debat. Begitulah hidup. Kadang masalahnya bukan pada perbedaan pendapat, tapi pada cara menyampaikannya.
Kita sering ingin menang dalam percakapan. Padahal dalam keluarga, kalau satu orang menang tapi yang lain terluka, itu bukan kemenangan. Itu cuma ego yang sedang tepuk tangan sendirian.
Maka sebelum bicara, terutama saat emosi, coba tahan sebentar. Jangan langsung dilepas seperti keran bocor. Tanya dulu dalam hati: apakah ini benar? Apakah ini perlu? Apakah bisa disampaikan dengan lebih baik?
Karena tidak semua yang benar harus langsung dikatakan. Tidak semua yang kita rasakan harus dimuntahkan. Tidak semua yang kita tahu harus diumumkan seperti pengumuman masjid.
Ada kalimat yang benar, tapi waktunya salah. Ada nasihat yang baik, tapi caranya menyakitkan. Ada teguran yang perlu, tapi nadanya membuat orang ingin pindah planet.
Kadang diam bukan berarti kalah. Diam bisa berarti kita sedang menang melawan ego. Menang melawan emosi. Menang melawan keinginan untuk berkata:
“Nah kan, aku bilang juga apa!”
Kalimat itu pendek, tapi efek menyebalkannya bisa bertahan lama.
Diam sebentar bisa menyelamatkan banyak hal. Karena setelah kata-kata keluar, kita memang bisa minta maaf, tapi tidak selalu bisa menghapus bekasnya. Sama seperti chat yang sudah terkirim ke grup keluarga. Walaupun dihapus, tetap saja ada yang sudah screenshot.
Pada akhirnya, dua mata, dua telinga, dan satu mulut bukan hanya susunan anggota tubuh. Di dalamnya ada pelajaran hidup yang sangat dalam. Kita diajari untuk lebih jernih melihat, lebih sabar mendengar, dan lebih hati-hati berbicara.
Dalam keluarga, kebijaksanaan berbicara bukan perkara kecil. Satu kalimat lembut bisa membuat anak merasa diterima. Satu ucapan terima kasih bisa membuat pasangan merasa dihargai. Satu permintaan maaf bisa mencairkan suasana yang beku. Satu candaan ringan bisa menyelamatkan hari yang melelahkan.
Jadi, kalau hari ini kita mulai ingin ngomel panjang, coba ingat desain tubuh kita.
Mata ada dua.
Telinga ada dua.
Mulut cuma satu.
Mungkin itu isyarat halus agar kita tidak terlalu cepat menghakimi, tidak terlalu malas mendengar, dan tidak terlalu semangat mengeluarkan kata-kata pedas.
Karena rumah yang bahagia bukan rumah yang tidak pernah ribut. Rumah yang bahagia adalah rumah yang penghuninya terus belajar berbicara dengan cinta, mendengar dengan sabar, dan melihat satu sama lain dengan penuh pengertian.
Walaupun tentu saja, urusan siapa yang makan kerupuk tapi tidak menutup toples tetap harus diselesaikan.
Dengan bijak.
Dan kalau bisa, tanpa rapat keluarga luar biasa.
Your email address will not be published. Required fields are marked *