
Pernah nggak sih kamu buka Instagram Story, terus ngerasa kayak lagi nonton dua film yang genrenya beda banget di waktu yang bersamaan?
Di slide pertama, ada teman kamu yang lagi nge-post video jalanan depan rumahnya yang udah berubah jadi sungai Amazon. Caption-nya tragis: "Perahu karet mana, perahu karet? #JakartaTenggelam."
Eh, begitu di-tap ke slide berikutnya, teman kamu yang tinggal beda kecamatan (atau beda kota) lagi pasang foto es teh manis dengan background matahari yang teriknya ngalahin silau lampu stadion. Caption-nya nggak kalah dramatis: "Panas banget woy, matahari ada sembilan apa gimana sih ini?"
Selamat datang di Indonesia, teman-teman. Di mana cuaca itu serandom mood kucing oren.
Ketika Langit Sedang Bipolar
Jujur aja, situasi hari ini tuh membingungkan. Rasanya kayak langit lagi punya kepribadian ganda.
Di satu sisi, ada daerah yang hujannya awet banget, nggak berhenti dari subuh. Teman-teman kita di sana (mungkin termasuk kamu?) sekarang lagi dalam mode siaga. Stok mie instan dicek, colokan listrik diamankan ke tempat tinggi, dan skill melompat antar-genangan air sedang diuji. Buat "Tim Basah", suara hujan yang katanya romantis itu sekarang terdengar kayak suara alarm bahaya. "Romantis apaan? Jemuran gue apek woy!"
Di sisi lain, ada "Tim Kering". Ini adalah golongan manusia yang hari ini kipas anginnya diputar ke speed nomor 3 tapi tetap keringetan. Mereka yang ngeliat berita banjir di TV sambil ngerasa bersalah, "Kok gue malah ngeluh panas ya? Padahal di sana kebanjiran." Tapi ya mau gimana lagi, emang panasnya bikin emosi, Bund.
Hikmah di Balik Jemuran
Tapi, di tengah kekacauan meteorologi ini, ada satu hal kocak yang bikin hati hangat (selain mie rebus pakai rawit). Yaitu munculnya solidaritas antar-cuaca yang unik banget.
Coba perhatiin grup WhatsApp keluarga atau grup alumni. Pasti ada percakapan begini:
Si A (Rumah Kebanjiran): "Gaes, doain ya air udah semata kaki. Hujannya nggak santai nih."
Si B (Rumah Kering Kerontang): "Ya ampun, stay safe Bro! Di sini malah panas kentang-kentang. Sini bawa jemuran lo ke rumah gue, 15 menit kering saking panasnya!"
Lihat? Indah banget kan?
Mungkin kita nggak bisa mindahin awan hujan semudah nge-geser aplikasi di HP. Kita juga nggak bisa nyuruh matahari pindah tempat seenak jidat. Tapi, kita bisa menawarkan apa yang kita punya.
Yang kebanjiran butuh doa dan semangat (dan mungkin tawaran ngungsi kalau parah).
Yang kepanasan butuh rasa syukur (bahwa setidaknya masalah mereka cuma gerah, bukan kasur basah).
Jadi, Kita Harus Ngapain?
Buat kamu yang sekarang lagi dengerin suara genteng digebuk hujan deras: Bertahanlah. Tarik selimut (kalau aman), seduh minuman hangat, dan ingatlah bahwa hujan pasti reda (klise sih, tapi beneran kok). Jangan lupa update info terkini ke orang terdekat, bukan cuma buat konten, tapi biar kami tahu kamu aman.
Buat kamu yang lagi kegerahan sampai rasanya pengen mandi es batu: Bersyukurlah. Jangan lupa cek teman-teman kamu yang lagi di area "zona merah" hujan. Siapa tahu mereka butuh bantuan, atau sekadar butuh teman ngobrol biar nggak panik nungguin air surut.
Intinya, mau kamu Tim Basah atau Tim Kering, kita semua sama-sama lagi berjuang. Berjuang melawan cuaca, berjuang melawan kemageran, dan berjuang menahan nafsu makan mie instan dua bungkus sekaligus.
Stay safe, everyone! Kalau hujannya awet, semoga rezekinya juga awet. Kalau panasnya terik, semoga semangatnya juga ikutan membara.
Mari saling titip doa, dan kalau perlu... saling titip jemuran.
Your email address will not be published. Required fields are marked *