
Rasa kecewa itu mirip makan rawon tapi kuahnya diganti air kelapa: rasanya absurd, aneh, dan bikin ingin meludah tapi terlanjur ditelan. Apalagi kalau kekecewaan itu lahir dari usaha yang sudah pol-polan. Kamu sudah berdarah-darah, eh realitanya malah bikin elus dada sambil istighfar seribu kali.
Tengok saja nasib Kang Mas'ud. Demi naik jabatan jadi kepala cabang, dia kerja bagai kuda yang disuntik minuman berenergi. Pulang malam terus, rajin Bawa hantaran kue kering ke rumah bos, sampai hafal silsilah keluarga Pak Direktur dari kakek sampai cucu paling bontot. Pas hari pengumuman, siapa yang dipilih? Malah keponakannya direktur—bocah kemarin sore yang kalau mengetik Excel masih pakai dua jari telunjuk dan hobi izin sick leave dengan alasan digigit nyamuk. Kecewa? Jelas. Rasanya ingin banting laptop, tapi ingat laptopnya masih nyicil 12 bulan lagi.
Atau tengok perjuangan Panitia Pengajian Karang Taruna di desa sebelah. Kang Sodiq dan kawan-kawan sudah ngalor-ngidul cari dana sponsor. Potong sapi satu ekor, sewa panggung megah ala konser dangdut, plus sewa kursi plastik 500 biji. Pas hari-H, mendadak hujan deras disertai angin kencang setingkat badai tropis. Yang datang cuma lima orang: tiga panitia sendiri, satu orang gila numpang berteduh, sama kucing warga yang mencari sisa tulang sapi. Niat hati ingin panen apresiasi warga, apa daya malah nombok sewa panggung dan ditagih tukang terop sambil basah kuyup.
Lantas, bagaimanakah jurus mengolah rasa kecewa ini biar jiwa tidak kumat alias stres berat? Di kalangan warga nahdliyin, ada ilmu rahasia tingkat tinggi untuk meredam kekecewaan: Manajemen "Untung".
Apapun musibahnya, cari kata "untung"-nya.
Usaha rugi puluhan juta? "Untung cuma rugi uang, coba kalau rugi iman?"
Lamaran kerja ditolak ke-20 kalinya? "Untung ditolak sekarang, coba kalau diterima tapi perusahaannya ternyata pesugihan?"
Ditinggal nikah pas lagi sayang-sayangnya? "Untung ditinggal sekarang, coba kalau ditinggal pas anak sudah empat?"
Ilmu "untung" ini bukan sekadar ngeles, melainkan cara otak kita melakukan refreshing spiritual biar tidak gila.
Pahami juga bahwa usaha kerasmu yang "seolah sia-sia" itu sebenarnya sedang disimpan oleh Gusti Allah di "rekening gaib". Kamu Minta rezeki berupa uang tunai, eh dikasihnya dalam bentuk kesehatan. Minta naik jabatan, dikasihnya berupa terhindar dari marabahaya. Gusti Allah itu Maha Tahu kalau kamu dikasih sukses sekarang, bisa-bisa jalanmu langsung melayang alias jumawa. Jadi, kekecewaan itu sebenarnya rem darurat biar kamu tidak menabrak tembok kesombongan.
Jadi kalau hari ini usahamu belum sebanding dengan hasil, tidak usah ngamuk ke tembok. Kekecewaan itu dinikmati saja seperti minum jamu pahit: rasanya memang tidak enak di lidah, tapi bikin badan sehat. Seduh kopi, tarik napas panjang, lalu senyum sambil bilang: "Gusti, matur nuwun. Hari ini kulo kecewa, tapi besok kulo jajal (coba) lagi." Karena selama kopi masih hangat dan gorengan masih renyah, hidup ini terlalu lucu untuk diratapi!
Your email address will not be published. Required fields are marked *