
Jujur saja, kita ini sering insecure kalau melihat teman-teman yang salehnya kebangetan. Malam tahajud kenceng, puasa Senin-Kamis nggak pernah bolong, dhuha-nya minimal 8 rakaat. Itu namanya Amalan Jalur Langit. Jalur VIP. Jalur tol bebas hambatan menuju ridho Tuhan.
Lha kita? Boro-boro tahajud, bangun subuh pas azan berkumandang saja rasanya seperti menang olimpiade. Pas puasa Senin-Kamis, jam 10 pagi perut sudah bunyi keroncong minta jatah. Kalau kita maksa lewat Jalur Langit terus, kadang rasanya ngos-ngosan, Bestie.
Tapi tenang. Jangan putus asa apalagi sampai log out dari agama. Tuhan itu Maha Kreatif dan Maha Tahu kapasitas hamba-Nya yang pas-pasan ini. Kalau Jalur Langit terasa macet karena kita kebanyakan dosa dan kemul (selimut), cobalah lewat Jalur Darat.
Apa itu Jalur Darat? Itu adalah strategi "merayu" Tuhan dengan cara memanjakan ciptaan-Nya.
Logika "Mantu Idaman"
Bayangkan Anda naksir anak orang kaya raya, tapi Anda minder mau langsung nemuin Bapaknya (Sang Calon Mertua) karena tampang pas-pasan dan dompet tipis. Apa strateginya?
Ya, baikin dulu orang-orang di sekitar rumahnya! Bawain martabak buat satpamnya, bantuin adiknya ngerjain PR, atau sapuin halaman rumahnya. Lama-lama, Bapaknya bakal ngelirik juga, "Ini siapa sih? Kok baik banget sama orang rumah gue? Yaudah, suruh masuk!"
Nah, konsep Jalur Darat itu mirip begitu. Kita sadar ibadah ritual kita "bolong-bolong". Maka, kita cari muka di depan Tuhan dengan cara berbuat baik sama manusia (dan makhluk lain) yang Tuhan ciptakan.
Contoh Amalan Jalur Darat yang "Receh" tapi Sakti
Nggak perlu nunggu jadi miliarder buat sedekah 1 Miliar. Amalan Jalur Darat itu ada di depan mata dan seringkali kocak:
Menjadi Pendengar Curhat yang Tabah
Teman Anda putus cinta untuk ke-12 kalinya dan curhat nangis-nangis dengan cerita yang template-nya sama? Dengarkan saja.
Menahan diri untuk tidak nyeletuk "Makanya cari yang bener!" itu adalah pahala kesabaran tingkat tinggi. Niatkan: "Ya Allah, saya dengerin dia ngoceh 2 jam ini sebagai sedekah kuping."
Mengalah pada "Emak-Emak Sein Kanan Belok Kiri"
Ini ujian iman paling nyata di jalan raya. Saat Anda hampir diserempet emak-emak matic yang manuvernya tak terduga, jangan marah. Jangan klakson panjang.
Tarik napas, senyum, dan biarkan Beliau lewat. Dalam hati bilang, "Silakan, Bu. Surga untuk Ibu." Itu derajat kesabarannya setara puasa setengah hari.
Beli Dagangan Teman yang Nggak Enak-Enak Amat
Punya teman baru belajar jualan kue dan rasanya... hmmm... "abstrak"? Beli saja. Puji sedikit. "Wah, teksturnya unik ya, crunchy di luar, misterius di dalam."
Menyenangkan hati teman itu ibadah. Urusan perut mules belakangan, yang penting teman senang. Tuhan catat itu sebagai support system sejati.
Senyum pada Kurir Paket
Mas-mas kurir teriak "PAKEEET!" di siang bolong yang panas. Jangan cuma diambil terus banting pintu. Kasih senyum, tanyain "Panas ya, Mas? Hati-hati di jalan." Kalau ada rezeki lebih, kasih air dingin.
Doa tukang paket yang kepanasan itu manjur, lho. Siapa tahu dia bergumam, "Orang ini baik, semoga paket hidupnya lancar."
Tuhan Itu Maha Asyik
Intinya, jangan kaku-kaku amat jadi orang beragama. Kalau belum sanggup jadi ahli zikir di pojok masjid, jadilah orang yang kehadirannya bikin nyaman orang lain.
Jangan sampai rajin sholat, jidat hitam, tapi tetangga eneg lihat muka kita karena mulut kita pedes banget kalau ngomongin orang. Itu namanya "Jalur Langit macet, Jalur Darat ditutup portal". Rugi bandar!
Jalur Darat adalah jalan ninja bagi kita-kita yang ibadahnya standar, tapi punya hati seluas samudera (dan punya stok humor yang banyak). Siapa tahu, justru dari tangan kita yang membantu dorong motor mogok orang tak dikenal itulah, Tuhan tersenyum dan berkata:
"Hamba-Ku yang satu ini sholatnya sih biasa aja, tapi dia asyik sama makhluk-Ku. Yaudah, masukin surga lewat pintu ramah tamah."
Jadi, hari ini sudah "merayu" Tuhan lewat siapa?
Mungkin lewat kucing jalanan yang minta makan, atau lewat tukang parkir yang Anda bayar tanpa minta kembalian (padahal cuma 2 ribu perak, jangan pelit-pelit amat lah).
Selamat berjuang di Jalur Darat, Kawan!
Your email address will not be published. Required fields are marked *