
Pernah nggak sih, lagi asyik rebahan sambil scrolling Instagram, niatnya mau nyari hiburan malah berakhir kena "mental breakdance"?
Lihat si A baru beli mobil, si B posting foto aesthetic habis naik jabatan, si C tiba-tiba sudah pre-wedding di Iceland. Sementara kita? Masih di posisi yang sama: rebahan, pakai kaos partai yang lubang ketiaknya makin lebar, sambil mikirin "Besok makan apa ya yang promo?"
Detik itu juga, perasaan insecure datang tanpa diundang. Kita merasa gagal. Kita merasa "kalah balapan". Tapi tunggu dulu, tarik napas dalam-dalam. Sebelum kamu mutusin buat hapus akun atau jual HP, coba dengerin dulu kenapa perasaan itu sebenarnya cuma "salah alamat".
1. Kita Lupa Kalau Garis Start Kita Gak Pernah Sama
Bayangin ada lomba lari. Kamu disuruh lari bawa kerupuk kaleng 5 kg, sementara temanmu lari di atas treadmill dalam ruangan ber-AC. Adil nggak? Nggak, kan?
Ada teman yang sukses karena memang "modal"-nya sudah kencang dari lahir. Ada juga yang kelihatan sukses sekarang, padahal dia sudah lari sejak 10 tahun lalu saat kita masih sibuk main warnet. Membandingkan diri sendiri dengan orang lain itu kayak membandingkan Rendang sama Es Cendol. Dua-duanya enak, tapi fungsinya beda, cara masaknya beda, dan nggak bisa disamakan!
2. Media Sosial Itu Cuma "Trailer" Film, Bukan Film Utuhnya
Kamu lihat temanmu sukses buka bisnis kopi? Itu trailer-nya. Kamu nggak lihat adegan "behind the scenes" saat dia nangis-nangis darah karena ditipu supplier atau saat dia begadang sampai tipes demi nyusun konsep.
Menilai hidup orang cuma dari postingan medsos itu ibarat menilai rasa sebuah makanan cuma dari fotonya. Kelihatannya manis, padahal aslinya... ya mungkin manis juga sih, tapi kan kita nggak tahu sembelitnya kayak apa setelah makan itu!
3. Beban Hidup Bukan Kayak Paket Shopee (Gak Selalu Kelihatan)
Setiap orang punya "tas punggung" masing-masing. Ada yang isinya batu kali, ada yang isinya kapas. Masalahnya, tas itu nggak kelihatan di foto profil.
Bisa jadi temanmu yang gajinya dua digit itu punya beban harus membiayai 7 saudaranya. Sementara kamu yang gajinya pas-pasan, setidaknya masih bisa tidur nyenyak 8 jam sehari tanpa perlu minum obat penenang. Hasil setiap orang itu beda karena input dan bebannya pun beda total.
4. Kamu Punya "Waktu Indonesia Bagian Sendiri"
Ada orang yang jadi CEO di usia 25, tapi meninggal di usia 50. Ada orang yang baru nemu kesuksesan di usia 50, tapi hidup sehat sampai usia 90.
Hidup ini bukan deadline pengumpulan tugas kuliah yang kalau telat langsung dapet nilai E. Kamu punya zona waktu sendiri. Jadi kalau sekarang kamu merasa masih "stuck", ya mungkin kamu memang lagi di fase pemanasan. Jangan dipaksa lari maraton kalau bensinnya belum penuh.
Fokus ke "Lapak" Sendiri
Membandingkan diri sama orang lain itu cuma buang-buang kuota dan energi. Mending energinya dipakai buat bikin hidup kita sendiri sedikit lebih asyik. Nggak perlu langsung jadi hebat, cukup jadi lebih baik dari dirimu yang kemarin (yang masih hobi overthinking itu).
Jadi, sudah siap berhenti insecure? Balik lagi deh ke scrolling, tapi kali ini kalau lihat teman sukses, kasih "Like" aja, terus bisikin dalam hati: "Keren juga ya dia, tapi gue juga oke kok dengan versi gue sekarang."
Your email address will not be published. Required fields are marked *