
Coba ngaku, siapa di sini yang kalau pasang alarm pagi berderet kayak gerbong kereta? Jam 05.00, 05.05, 05.10, 05.15... dan berujung bangun jam 07.00 dengan ekspresi panik ala Kevin McCallister di film Home Alone?
Ngeselin emang kalau kita kesiangan. Tapi, pernah nggak sih kamu ngebayangin, gimana jadinya kalau hati kita juga punya sistem alarm?
Bayangin pas kita lagi asyik ngejulidin outfit orang di kafe, tiba-tiba dari dada kita bunyi sirine TET TOT TET TOT: "Peringatan! Hati Anda sedang mengalami proses pengerasan 20%, harap segera tobat!" Pasti malu banget, kan? Sayangnya, hati kita nggak dirancang pakai alarm secanggih itu. Kalau dia mulai keras, prosesnya diam-diam. Nggak ada bunyi, nggak ada notif, tahu-tahu rasanya hampa aja.
Hati Keras Itu Mirip Kerak Nasi di Rice Cooker
Kamu tahu kerak nasi yang nempel di dasar rice cooker dan lupa direndam air semalaman? Nah, kira-kira begitulah perumpamaan hati yang keras.
Kalau udah mengeras, dikerok pakai sendok kayu pun nggak mempan, yang ada sendoknya patah atau pancinya lecet. Hati yang keras juga gitu, dikasih nasihat baik malah mantul, diajak kebaikan malah denial, dan bawaannya gampang senggol bacok.
Coba deh kita cek ombak, ada nggak gejala-gejala ini di diri kita belakangan ini?
Gejala 1: Dengar azan berkumandang, bukannya siap-siap, malah ngebatin, "Buset, perasaan baru tadi zuhur, kok udah asar lagi aja sih? Perasaan waktu berjalan terlalu cepat buat kaum rebahan."
Gejala 2: Lihat orang kena musibah di berita atau media sosial, bukannya kasihan malah komen nyinyir, "Ah, palingan juga settingan demi konten." Empati left the chat.
Gejala 3: Mata bisa melek maraton drakor 8 episode sampai jam 3 pagi, tapi giliran disuruh baca buku bermanfaat atau doa 5 menit aja, mata mendadak sepet kayak ditetesin jeruk nipis.
Kalau kamu senyum-senyum sendiri baca poin di atas... tenang, kamu nggak sendirian. Kita semua pernah (atau sering) di fase itu.
Siapa Sih "Tersangka" Utama Bikin Hati Keras?
Lucunya, hati keras itu jarang disebabkan oleh kesalahan epik sekelas super villain di film Marvel. Biasanya, penyebabnya justru hal-hal remeh yang kita anggap "ah elah, santai aja kali".
Dosa Micro yang Ditimbun: Ngegosip tipis-tipis di pantry, nyomot gorengan tiga ngakunya dua, atau scrolling dan ngiri lihat instastory teman yang lagi liburan ke Eropa. Ini ibarat debu di kaca spion, makin lama dibiarin, makin buram mandang hidup.
Overdosis Duniawi: Sibuk banget kejar target KPI kantor sampai lupa "KPI" kehidupan. Pikiran isinya cuma cuan, cuan, cuan. Sekalinya cuan mandek, langsung uring-uringan nyalahin semesta.
Terlalu Banyak Ketawa yang Receh: Hiburan itu perlu banget kewarasan, tapi kalau 24/7 isinya cuma ketawa-ketiwi nonton video meme tanpa jeda buat merenung, hati lama-lama jadi "kering".
Mengaktifkan "Alarm Iman" Secara Manual
Karena hati nggak punya alarm otomatis, kita yang harus set-up sendiri alarmnya. Namanya juga Siaga Iman, artinya kita pasang kuda-kuda sebelum keraknya makin tebal. Gimana caranya tanpa harus jadi orang yang kaku-kaku amat?
Rendam Pakai "Air": Balik lagi ke analogi kerak nasi tadi. Cara paling gampang bersihinnya adalah direndam air, kan? Hati juga gitu. "Air"-nya bisa berupa ngumpul bareng circle pertemanan yang positif, dengerin kajian yang menyejukkan (bukan yang bikin emosi), atau sekadar curhat nangis-nangis ke Tuhan di malam hari. Nangis itu bagus lho, semacam pelembut pakaian tapi buat hati.
Sering-Sering Check-in Perasaan: Bikin alarm sungguhan di HP kamu. Misalnya jam 2 siang. Begitu bunyi, luangkan 1 menit aja buat nanya ke diri sendiri: "Gue hari ini kebanyakan ngeluh apa bersyukur ya?" 3. Sedekah "Jalur Tikus": Nggak harus nunggu kaya buat sedekah. Ngasih lebihan tip buat abang ojol, ngasih senyum ke satpam kantor, atau nyingkirin paku di jalan. Kebaikan kecil itu ampuh banget merontokkan kerak di hati.
Intinya, guys, jangan tunggu hati kita mentok membatu kayak fosil dinosaurus baru mau berbenah. Yuk, pasang mode "siaga" dari sekarang. Biar kalau ada godaan datang, hati kita udah siap nangkis pakai perisai iman, bukan malah welcome-welcome aja.
Gimana, siap nge-restart alarm iman hari ini?
Your email address will not be published. Required fields are marked *