
Judulnya puitis banget, ya? Kayak kutipan dari novel romance atau lirik lagu indie senja. Tapi mari kita jujur-jujuran saja. Kalau kita tarik ke realita keseharian kita yang serba berantakan ini, "sesak dan rindu" di Jumat terakhir Ramadhan itu bentuknya sering kali lebih kocak dan absurd dari yang kita bayangkan.
Coba deh kita bedah satu-satu, apa saja sih sebenarnya yang bikin kita sesak dan rindu di detik-detik terakhir bulan puasa ini?
1. "Sesak" Karena Kolesterol dan Baju Lebaran
Di minggu pertama, kita puasa dengan niat detoksifikasi. Masuk minggu kedua, mulai kalap. Dan di Jumat terakhir ini, dada rasanya "sesak" bukan cuma karena sedih ditinggal Ramadhan, tapi karena penumpukan lemak dari gorengan, kolak, dan sirup aneka warna selama 20 hari lebih berturut-turut.
Lebih parah lagi, ada "sesak" yang baru disadari tadi malam: nyobain baju Lebaran yang dibeli minggu lalu, dan ternyata ngepas banget di perut. Panik nggak tuh? Panik lah! Masa besok shalat Idul Fitri harus sambil tahan napas?
2. "Rindu" pada Rencana Bukber yang Berujung Wacana
Ada rindu yang menggunung dan belum tuntas pada teman-teman SD, SMP, SMA, sampai teman kuliah. Ingat kan euforia di minggu pertama Ramadhan? Grup WhatsApp tiba-tiba ramai:
"Eh bukber yuk!"
"Ayo, kapan nih enaknya? Tentukan tanggal dong!"
"Gue ngikut aja."
Lalu... hening. Sampai hari Jumat terakhir ini, wacana itu menguap begitu saja seperti embun pagi. Rindu itu terpaksa dikubur dalam-dalam bersama pesan “Nanti habis Lebaran aja ya kita kumpul-kumpul!” (Yang kita semua tahu, itu juga 99% wacana).
3. Degradasi Kasta Menu Sahur yang Bikin Melow
Rindu yang belum tuntas juga tertuju pada menu sahur hari pertama. Masih ingat hari pertama puasa? Meja makan penuh. Ada ayam goreng, sayur sop, rendang sisa punggahan, sampai buah potong. Semua bangun jam 3 pagi dengan semangat 45.
Bandingkan dengan sahur Jumat terakhir ini. Bangun jam 04:15 WIB dengan mata setengah tertutup, nyari apa aja yang bisa dikunyah. Nasi sisa semalam ketemu telur ceplok kecap, atau combo maut anak kos: mie instan kuah campur nasi biar kenyang sampai maghrib. Mengunyahnya pun sambil lari-lari kecil takut keburu Imsak. Syahdu sekali realita ini, kawan.
4. Evaluasi Ibadah yang Bikin Senyum Kecut
Ini nih puncaknya. Ada sesak di dada saat ingat target awal Ramadhan: “Tahun ini pokoknya harus khatam 30 Juz! Tarawih nggak bolong!” Kenyataannya? Di Jumat terakhir ini, pita pembatas Al-Quran masih anteng di pertengahan surat Al-Baqarah karena tiap habis baca dua lembar, tangan refleks scroll TikTok. Tarawih pun grafiknya mirip perosotan TK; minggu pertama saf penuh sampai luber ke pelataran parkir, di Jumat terakhir ini saf maju drastis sampai kipas angin masjid rasanya terlalu dingin karena jamaahnya sisa dua baris.
5. Drama Khutbah Jumat Terakhir: Antara Haru dan "Nyender"
Siang ini, pas shalat Jumat, momen baper itu akan datang. Khatib pasti akan membawakan tema perpisahan dengan Ramadhan. Suasana masjid jadi syahdu. Hati rasanya ikut teriris, benar-benar sedih karena tamu agung ini mau pulang.
Tapi... realita fisik tidak bisa bohong. Di tengah rasa haru itu, mata luar biasa berat. Angin sepoi-sepoi masjid, suara mic yang menggema empuk, ditambah posisi pewe nyender di tiang masjid. Jadilah kita: hati menangis sedih ditinggal Ramadhan, tapi kepala ngangguk-ngangguk nahan kantuk.
Walau Begitu, Kita Pasti Rindu...
Di balik semua kekocakan, wacana, dan target yang gagal itu, jujur saja kita pasti akan rindu. Rindu suara sirine buka puasa yang rating-nya ngalahin lagu hits manapun. Rindu suara anak-anak kecil teriak "Tarawih woy!" sambil lari-lari bawa sarung. Dan rindu pada suasana tenang yang cuma ada setahun sekali ini.
Jadi, nikmati saja Jumat terakhir ini. Senyum-senyum sendiri ingat kelakuan sebulan ini juga nggak apa-apa. Toh, bulan penuh ampunan ini memang hadir untuk kita manusia-manusia biasa yang masih sering ketiduran pas sahur.
Your email address will not be published. Required fields are marked *