
Pernah nggak sih, habis shalat Tahajjud jam 3 pagi, rasanya ada glitter yang turun dari langit menyinari wajah kita? Kita merasa suci, bersih, dan... gatel.
Gatel pengen update status.
Cekrek foto sajadah (angle estetik dikit, ada tasbih di pinggir).
Caption: "Nikmatnya bermunajat di sepertiga malam, saat yang lain terlelap. #Blessed #PejuangSubuh."
Jujur saja, Bestie. Saat jempol kita menekan tombol "Post", di situlah setan yang tadinya lagi break ngopi, langsung tepuk tangan meriah. "Yes! Ibadahnya lolos, tapi pahalanya hangus!"
Kita sering fokus setengah mati untuk melakukan ketaatan, tapi sering lupa menjaga hati setelah ketaatan itu selesai. Padahal, ada tiga "racun" mematikan yang siap membegal pahala kita di tikungan. Mari kita bedah satu peratu sambil ngaca (saya juga lagi ngaca nih).
1. Ujub (Kekaguman pada Diri Sendiri)
Alias: "Gila, Gue Keren Banget!"
Ujub itu ibarat kita ngasih kado ke orang, tapi kita sendiri yang takjub sama bungkus kadonya.
"Wuih, gila sih gue. Orang lain sibuk nge-drakor, gue udah khatam 2 juz hari ini. Memang beda kelas."
Gejala Ujub:
Habis sedekah, rasanya pengen ada konferensi pers.
Merasa ibadahnya adalah prestasi pribadi, bukan pertolongan Allah.
Sering "Humble Brag" (Pamer terselubung). Contoh: "Duh, ngantuk banget di kantor gara-gara semalam zikir sampai subuh. Berat banget emang ujian orang beriman." (Halah, bilang aja mau pamer!).
Obatnya:
Ingatlah teori "Tukang Parkir". Tukang parkir itu punya banyak mobil, dari Alphard sampai Ferrari. Tapi dia nggak sombong. Kenapa? Karena dia sadar itu semua cuma titipan. Begitu diambil yang punya, ya dia diem aja. Amal kita juga gitu, itu titipan taufik dari Allah. Jangan geer.
2. Sombong (Merasa Lebih Baik dari Si 'Pendosa')
Alias: "Panitia Seleksi Surga"
Kalau Ujub fokusnya ke diri sendiri ("Gue keren"), Sombong fokusnya merendahkan orang lain ("Dia payah").
Ini racun yang paling licin. Habis hijrah, pakai baju syari atau celana cingkrang, tiba-tiba mata kita berubah jadi scanner barcode. Tiap lihat orang lewat, langsung dinilai:
"Ih, bajunya ketat banget. Neraka jalur prestasi nih."
"Yaelah, shalatnya kilat banget kayak patuk ayam. Diterima nggak tuh?"
Tanpa sadar, kita mengangkat diri kita jadi Ketua Panitia Surga, padahal SK-nya belum turun. Kita lupa kalau Iblis diusir dari surga bukan karena dia mabuk atau zina, tapi karena dia bilang: "Aku lebih baik dari Adam."
Obatnya:
Pakai kacamata "Husnuzan". Kalau lihat orang yang (kelihatannya) maksiat, batin aja: "Mungkin dosa dia cuma itu yang kelihatan, tapi diam-diam dia punya amalan rahasia yang bikin Allah luluh. Sedang aku? Ibadah kelihatan, tapi dosa sembunyi-sembunyiku segunung."
3. Merasa Aman (Makar Allah)
Alias: "Member Platinum Anti-Neraka"
Ini penyakit yang bikin kita merasa sudah pegang tiket VIP ke surga, jadi bisa santai-santai.
"Ah, nggak apa-apa gibah dikit, kan kemarin udah sedekah anak yatim 5 juta. Masih impas lah saldo pahalanya."
Merasa aman dari dosa itu bahaya banget. Kita jadi meremehkan dosa kecil. Padahal, dosa kecil kalau ditumpuk terus-menerus bisa jadi bukit juga. Kita merasa aman karena amal kita banyak? Yakin diterima? Gimana kalau ternyata amal kita cuma dihitung sebagai "spam" sama malaikat karena niatnya nggak lurus?
Para sahabat Nabi yang jaminan surga saja (seperti Umar bin Khattab) masih sering menangis takut amalnya nggak diterima. Lah kita? Jaminan surga belum ada, jaminan utang panci banyak, tapi pedenya selangit.
Obatnya:
Milikilah perasaan "Harap-harap Cemas". Berharap diterima, tapi cemas kalau ditolak. Kayak lagi nunggu balesan chat dari gebetan. Jangan kepedean dulu sebelum akad (masuk surga).
Penutup: Jangan Jadi Ember Bocor
Saudara-saudariku yang budiman,
Beramal itu ibarat mengisi air ke dalam ember.
Ujub itu melubangi embernya.
Sombong itu menendang embernya sampai tumpah.
Merasa Aman itu membiarkan embernya kehujanan air kotor.
Sayang banget kan, capek-capek nimba air (ibadah), pas sampai di akhirat embernya kosong melompong.
Yuk, kita sama-sama belajar. Setelah beramal, segera tekan tombol "Reset". Lupakan kebaikan yang barusan kita buat. Anggap nggak pernah terjadi. Biar Allah yang catat, kita nggak usah ikut-ikutan jadi akuntan pahala.
Tutup amalmu rapat-rapat, serapat kamu menutup aib-aibmu.
Semoga kita dijauhkan dari sifat merasa suci, padahal aslinya penuh daki (dosa).
Your email address will not be published. Required fields are marked *