
Halo, rekan-rekan sejawat pejuang rumah tangga. Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin atas segala khilaf kita saat menawar makan malam tadi.
Mari kita jujur satu sama lain. Ada satu momen paling horor dalam kehidupan pria beristri. Momen ini bukan saat mertua tiba-tiba datang tanpa kabar, atau saat saldo ATM tinggal empat digit. Momen horor ini terjadi setiap hari, biasanya antara jam 6 sore sampai 8 malam.
Momen itu dimulai dengan satu pertanyaan sederhana dari bibir kita:
"Makan apa kita malam ini, Mak?"
Dan boom! Duniamu runtuh seketika saat dia menjawab santai sambil scroll TikTok:
"Terserah."
Rekan-rekan, kita semua tahu, "Terserah" dalam konteks ini bukanlah sebuah kebebasan memilih. Itu adalah sebuah jebakan betmen tingkat tinggi, sebuah teka-teki silang tanpa petunjuk, yang kalau kamu salah jawab, taruhannya adalah "mood negara" selama sisa malam itu.
Banyak suami pemula yang mengira ini adalah kesempatan emas untuk makan apa yang mereka mau. Amateur. Suami veteran tahu, ini adalah awal dari sebuah sidang paripurna tanpa ketua dewan.
Seketika, statusmu berubah dari "Kepala Keluarga" menjadi "Sales Food & Beverage Door-to-Door". Kamu harus mengajukan proposal makanan dengan pitching terbaik layaknya peserta Shark Tank.
Mari kita lihat rekaman kejadian nyata yang (saya yakin) dialami 99% dari kita:
Pitching #1: Sang Sales Optimis
Suami: "Oke, Sate Ayam gila Pak Kumis depan gang, gimana? Dagingnya gede-gede, bumbunya medok..."
Istri: (Tanpa mengalihkan pandangan dari HP) "Lagi diet bumbu kacang. Lagian itu kan kolesterolnya tinggi, kasihan perutnya."
Analisis: Proposal ditolak mentah-mentah atas dasar kesehatan dadakan. Padahal pagi tadi dia baru habis makan martabak sisa semalam.
Pitching #2: Mencari Alternatif Ringan
Suami: (Menelan ludah, tensi mulai naik) "Eh... Mie tek-tek depan masjid? Udah lama nggak makan mie kuah hangat..."
Istri: (Hela napas panjang) "Ih, mie lagi. Karbo doang itu. Perut aku lagi begah, jangan kasih mie deh."
Analisis: Proposal ditolak karena alasan komposisi gizi. Suami mulai menyadari bahwa status "Terserah" tidak berlaku untuk karbohidrat.
Pitching #3: Mencoba yang Merakyat
Suami: (Keringat dingin, perut sudah bunyi 'danger') "Pecel lele pinggir jalan, Ayah lihat sambalnya merah banget, kayaknya enak..."
Istri: "Bosan ah, lele mulu. Lagian itu minyak gorengnya kayaknya udah dari zaman purba deh, hitam banget. Nggak sehat."
Analisis: Proposal ditolak karena faktor higienitas dan kebosanan visual. Suami mulai kehilangan harapan.
Titik Balik: Penyerahan Diri
Rekan-rekan, di titik ini, otak kita biasanya sudah korsleting. Kita sudah menawarkan sate, mie, lele, nasi goreng, bubur ayam, sampai ayam geprek level neraka, dan semuanya ditolak dengan alasan yang lebih kompleks dari rumus fisika kuantum.
Kita lapar. Emosi. Frustrasi.
Akhirnya, dengan sisa-sisa kewarasan yang ada, kita mematikan mesin mobil atau menutup aplikasi Ojol, dan mengambil keputusan paling logis namun paling hipokrit sedunia.
Suami: "Oke. Nyerah. Kita beli fast food Ayam Goreng Tepung plus Kentang Goreng aja ya. Itu yang paling cepat."
Istri: (Akhirnya menoleh dari HP, matanya berbinar) "Nah! Gitu kek dari tadi tawarinnya! Ya udah, gass!"
Dan disitulah ironinya. Setelah menolak sate kacang karena diet, menolak mie karena karbo, dan menolak lele karena minyak hitam, dia berakhir bahagia dengan makan ayam goreng penuh tepung yang digoreng deep fried dan kentang goreng pemicu karbo sejati.
Itulah kawan, terjemahan kamus "Terserah".
Pesan moralnya? Jangan pernah menganggap "Terserah" itu artinya kamu bebas memilih. "Terserah" artinya "Aku sudah punya keinginan spesifik di kepalaku, tapi aku mau kamu yang nebak sampai kamu gila, lalu menyerah dan setuju dengan keinginan batinku yang (biasanya) tidak sehat itu."
Semangat terus para suami. Percayalah, walau capek pitching, senyum sumringah Kanjeng Ratu saat ayam goreng tepung datang adalah kunci surga (pintu depan) kita.
Your email address will not be published. Required fields are marked *